Gresik (beritajatim.com) – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Gresik terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencapai 232 pasien mulai Januari hingga Mei 2025. Dari data itu, wilayah Kecamatan Kebomas masuk kategori tertinggi karena ada 48 pasien.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gresik, dr Puspita Wardani menuturkan, DBD disebabkan gigitan nyamuk ‘Aedes Aegyti’. Untuk itu, masyarakat dihimbau waspada serta menjaga lingkungan masing-masing.
“Selama lima bulan terakhir, ada 232 pasien DBD. Yang paling banyak di Kecamatan Kebomas,” tuturnya, Selasa (27/5/2025).
Data Dinkes Gresik mencatat, selain Kecamatan Kebomas. Ada pula kecamatan lain mengalami hal yang sama. Diantaranya Duduksampeyan 8 pasien. Selanjutnya, Kecamatan Gresik 15 pasien, Cerme 24, Benjeng 14, Kecamatan Menganti 8 pasien, Manyar 39.
Kemudian Kecamatan Balongpanggang 12 pasien, Bungah 3, Wringinanom 8 pasien, Driyorejo 13 pasien. Kecamatan Dukun 12 pasien, Kecamatan Panceng 8, Kecamatan Ujungpangkah 9, Kecamatan Sidayu 6, Kecamatan Kedamean 5, Kecamatan Sangkapura 0, dan Kecamatan Tambak 1 pasien.
Puspita Wardhani menjelaskan untuk penggunaan fogging. Sesuai petunjuk teknis (Juknis) Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dilaksanakan bila ada pasien positif DBD.
“Juknisnya fogging dapat dilaksanakan bila ada pasien DBD di wilayah tersebut. Kemudian dibuktikan dengan hasil laboratorium darah lengkap minimal dua kali pemeriksaan yang menunjukkan penurunan jumlah trombosit dan peningkatan hematokrit,” paparnya.
Ia menambahkan, masih terkait dengan ini. Dinkes Gresik memberikan obat untuk insektisida dan meminjamkan alat foggingnya. Sedangkan untuk BBM dan petugas pelaksana foggingnya, berkoordinasi antara desa dan puskesmas wilayah.
“Tidak benar bila ada pungutan fogging Rp 6 juta satu RW. Pelayanannya hanya melalui Puskesmas. Kami akan melakukan penelusuran terkait ini,” imbuhnya.
Selain fooging kata dia, masyarakat juga bisa melakukan pencegahan dini dengan cara menguras, menutup, dan mengubur supaya telur nyamuk Aedes Aegyti tidak berkembang biak.
“Itu cara sederhana turut mencegah DBD supaya tidak merebak akibat virus nyamuk Aedes Aegyti,” tandasnya. [dny/ian]






