Madrid (beritajatim.com) – Seharusnya, Real Madrid menutup musim ini dengan trofi. Itu bukan ditujukan kepada tim. Melainkan agar kepergian entrenador Carlo Ancelotti dan kapten Luka Modric lebih sakral.
Ya, dua figur krusial bagi kesuksesan Real di sedekade terakhir itu menjalani laga pemungkas di Estadio Santiago Bernabeu, Madrid, melawan Real Sociedad tadi malam. Untungnya, Real menang 2-0 pada laga yang juga jornada terakhir LaLiga itu.
Sebelum laga dimulai, dua spanduk raksasa terbentang untuk Ancelotti dan Modric. Spanduk bertuliskan “Gracias Leyenda” ditujukan kepada Modric sedangkan tulisan untuk Ancelotti adalah “Gracias Carletto”.
Terpantau kamera Ancelotti menangis sebelum, sesaat, dan setelah laga. Sedangkan tangisan Modric pecah ketika dia digantikan oleh Chema Andres pada menit ke-87. Sebab, dia mendapat standing ovation dari puluhan ribu penonton. Bahkan, presiden Real Florentino Perez juga kedapatan menangis di tribun penonton.
“Aku memenangi banyak gelar. Tetapi, hal terhebat yang ku menangi di sini adalah cinta dari kalian semua,” ujar Modric dilansir Diario AS.
Sesaat setelah laga usai, Ancelotti dan Modric berpelukan. Bahkan, eks gelandang Real Toni Kroos yang pensiun tahun lalu juga hadir untuk memeluk Modric.
Sambutan hangat kepada Ancelotti dan Modric ditunjukkan semua personel Los Merengues. Mereka mengangkat Ancelotti dan Modric satu persatu.
Ancelotti pergi dengan predikat pelatih dengan trofi terbanyak sepanjang sejarah Real di 15 gelar dari 2 periode (2013-2015 dan 2021-2025). Sedangkan dengan 28 trofi, Modric merupakan pemain dengan titel terbanyak untuk Real.
“Ini (melatih Real, Red) pengalaman menakjubkan yang tak akan pernah terlupa. Aku mencintai kalian semua. Hala Madrid y nada mas!” ucap Ancelotti. (dio)






