Surabaya (beritajatim.com) – Kesal karena bensin yang dibeli tidak dibayar menjadi motif Badrus Sholeh (26) pelaku pembunuhan di Kedinding Surabaya, Senin (19/05/2025) sore. Aksi Badrus Sholeh itu menggemparkan warga karena dilakukan di belakang masjid Sirotol Mustakim, Jalan Kedinding Lor, Kenjeran.
Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak, AKP Muhammad Prasetyo mengatakan, korban Salamullah (30) saat itu membeli bensin di warung milik Badrus. Salamullah. Dia mengisi bensin jenis pertalite sampai memenuhi tangki bensin motor. Setelah diisi oleh Badrus, Salamullah enggan membayar dan terjadi cekcok.
“Korban tidak mau membayar dan malah memukul pelaku,” kata Prasetyo, Jumat (23/05/2025).
Salamullah berniat langsung meninggalkan warung Badrus. Namun, Badrus lebih cepat untuk mengambil kunci motor korban. Badrus lantas masuk ke dalam warung untuk mengambil celurit yang diselipkan di pinggang sebelah kiri.
“Korban lantas lari saat mengetahui pelaku mengambil celurit. Pelaku berlari ke arah belakang masjid Sirotol Mustakim,” tuturnya.
Namun, korban salah ambil jalan. Jalan yang dipilih untuk kabur itu buntu. Salamullah pun tidak bisa menghindar saat Badrus mengayunkan celurit ke bagian tubuh. Salamullah dibacok dua kali dan menyebabkan lengan kiri putus.
“Pelaku langsung kabur meninggalkan korban. Pelaku BS langsung membawa motor korban di Jalan Larangan dan melarikan diri ke Sampang, Madura,” tegas Prasetyo.
Kini, Badrus dijerat dengan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman pidana kurungan penjara 15 tahun.
Abdul warga sekitar menjelaskan pelaku sempat meneriaki korban dengan teriakan maling. Korban lantas dikejar hingga ke area belakang kampus yang bersebelahan dengan Masjid Shirootolhol Mustaqiim. Diduga di lokasi itulah aksi pembacokan brutal terjadi. Korban ditemukan tewas dengan kondisi tangan kiri putus dan berlumuran darah. (ang/but)






