Ponorogo (beritajatim.com) – Dari lereng Gunung Gamping yang sunyi di Desa Sampung, kini menjulang bangunan 14 lantai yang tengah menyelesaikan tahap akhirnya. Ialah Monumen Reog Ponorogo, bukan sekadar proyek wisata, melainkan penanda tekad Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo untuk menulis ulang peta peradabannya.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyebut pembangunan monumen ini sebagai kerja budaya yang melampaui batas pariwisata. Dia pun menilai Ponorogo tengah mengukuhkan kembali dirinya sebagai poros sejarah dan kebudayaan, berangkat dari kekayaan lokal yang telah mendunia, yakni kesenian Reog Ponorogo.
“Ini bukan hanya soal seni atau pertunjukan, tapi tentang jejak peradaban yang digali dari nilai-nilai hidup masyarakat Ponorogo,” kata Khofifah, usai meninjau lokasi pembangunan Monumen Reog, ditulis Kamis (15/5/2025).
Dari lantai paling atas gedung utama, pemandangan terbentang lepas. Dari titik itu pula, Gubernur Jawa Timur 2 periode itu, melihat bagaimana monumen ini menjadi cara Ponorogo berbicara pada dunia. Bukan dengan slogan, tapi dengan warisan yang hidup.
Khofifah mengingatkan, sebelum Reog mendapat pengakuan resmi dari UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, masyarakat Ponorogo telah lebih dulu memuliakannya. Monumen ini, katanya, adalah bentuk penghormatan sekaligus strategi pelestarian yang visioner.
Bangunan ini kini nyaris rampung. Progresnya telah mencapai 98 persen. Namun pekerjaan sebenarnya justru dimulai ketika bangunan ini berdiri sepenuhnya. Sebab di sanalah tantangan menjaga relevansi dan keberlanjutan nilai budaya itu diuji. Menurut Khofifah, keberanian, kejuangan, dan semangat ksatria yang tercermin dalam Reog Ponorogo, harus tetap mengalir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Semangat itu bukan hanya untuk pentas, tapi untuk hidup,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Khofifah menyebut bahwa semangat membangun monumen ini, lahir dari gotong royong lintas unsur, mulai dari budayawan, seniman, pemimpin daerah, hingga warga desa yang tiap hari hidup bersama denyut Reog Ponorogo. Baik yang merawat tarinya, membuat kostumnya, hingga melanjutkan kisahnya lewat generasi ke generasi.
“Mari kita jaga bersama. Doakan agar pembangunan ini lancar dan membawa manfaat besar, bukan hanya bagi Ponorogo, tapi untuk Indonesia,” pungkasnya.
Di sisi lain, Bupati Sugiri Sancoko menyatakan bahwa monumen ini akan berperan besar dalam mendidik generasi muda. Tak hanya sebagai penonton, tapi sebagai pewaris nilai-nilai luhur dari kebudayaan mereka sendiri. (end/but)






