Malang (beritajatim.com) – Robbyan Abel Ramdhon resmi merilis buku fiksi perdananya yang berjudul Tuhan Bersembunyi Seperti Kancing Cadangan. Buku kumpulan cerpen ini menyuguhkan gaya bertutur yang tajam, filosofis, dan relevan dengan persoalan hidup manusia modern.
Peluncuran buku ini semakin menarik perhatian publik setelah Robbyan dinobatkan sebagai salah satu emerging writers dalam ajang bergengsi Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025, festival sastra internasional yang menjadi magnet bagi pecinta literasi se-Asia Tenggara. Ia berencana memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkan karya terbarunya kepada khalayak global.
“Semoga karya ini juga dibaca bule yang suka sastra Indonesia,” ujar Robbyan sambil bercanda, Rabu (7/5/2025).
Diterbitkan oleh Intensif Books, buku Tuhan Bersembunyi Seperti Kancing Cadangan disebut sebagai karya yang penting untuk dibaca masyarakat masa kini. Perwakilan penerbit sekaligus editor buku, Makrom Ubaid, menilai cerpen-cerpen Robbyan berhasil menyentuh inti persoalan manusia.
“Sebagai manusia, kita sudah terlalu jauh berjalan di dunia ini. Sesekali kita mesti menengok ke belakang untuk membaca ulang pertanyaan-pertanyaan dasar dalam kehidupan ini,” tutur Makrom.
Ia menyebutkan bahwa buku ini membahas tiga isu utama yang merangkai seluruh cerita di dalamnya: nafsu, eksistensi, dan ekonomi. Cerita-cerita tersebut menghadirkan refleksi tajam tentang cara manusia mempertahankan obsesi sekaligus mempertanyakan makna hidupnya.
Lebih jauh, Robbyan berharap bukunya bukan hanya dinikmati, tetapi juga dapat memantik diskusi yang berdampak.
“Saya harap buku ini bisa memicu diskusi-diskusi bermakna, syukur-syukur bisa jadi dorongan lahirnya karya baru di masa mendatang,” ungkapnya.
Bagi yang berminat, buku ini bisa dipesan melalui akun Instagram penerbit @bukuintensif, kontak WhatsApp 0815-5383-6218, atau melalui berbagai marketplace yang tersedia.
Untuk memperluas jangkauan pembaca, Robbyan juga akan mengadakan tur promosi buku ke sejumlah kota besar di Indonesia. Beberapa kota yang dijadwalkan termasuk Surabaya, Madura, Mojokerto, Malang, Yogyakarta, dan Jakarta.
Kehadiran penulis muda asal Kota Mataram di Malang menjadi momen yang dinantikan, terutama bagi komunitas sastra dan pecinta literasi di kota pendidikan ini. Buku debutnya tak hanya menambah warna dalam khazanah sastra Indonesia, tetapi juga mengajak pembaca menyelami kembali makna yang tersembunyi dalam keseharian. [dan/aje]






