Bondowoso (beritajatim.com) — Komunitas peduli lingkungan Sarka Space berhasil mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif seperti solar, bensin, dan gas elpiji.
Inovasi ini mendapat apresiasi dan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan DPRD Kabupaten Bondowoso.
Owner Sarka Space, Uyes, menjelaskan bahwa teknologi yang mereka gunakan memanfaatkan proses pembakaran tidak langsung.
Yakni dengan memanaskan sampai plastik dengan suhu mencapai 400 derajat Celsius dalam ruang minim oksigen.
Teknik ini memungkinkan plastik mencair dan menghasilkan bahan bakar alternatif. Eksperimen telah dilakukan sejak tahun 2022, dan mereka resmi menjadi bank sampah pada akhir 2023.
“Kami ingin mesin ini nantinya bisa digunakan oleh desa-desa agar mandiri dalam mengelola sampah dan memenuhi kebutuhan solarnya sendiri,” kata Uyes pada BeritaJatim.com, Senin (5/5/2025).
Menurutnya, inovasi ini ke depannya bisa sangat membantu petani yang menggunakan bahan bakar solar untuk alat mesin pertaniannya.
“Jika kelompok tani punya mesin ini, maka tidak perlu antre solar lagi. Dari sampah, petani bisa menghasilkan bahan bakar sendiri,” terang Uyes.
Kepala DLH Bondowoso, Aris Agung Sungkowo, mengapresiasi langkah nyata Sarka Space. Komunitas yang berada di Kelurahan Kademangan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso itu disebutnya inspiratif.
“Beliau ini (Uyes) sudah pakarnya. Kami akan terus memberikan dukungan, baik dari sisi sarana prasarana maupun dukungan lain sesuai anggaran yang ada,” ujarnya.
Wakil Ketua DPRD Bondowoso, Sinung Sudrajad, menyebut inovasi ini sebagai bentuk kreativitas luar biasa yang perlu difasilitasi oleh pemerintah.
“Bondowoso ini bagian dari UNESCO Global Geopark, dan salah satu tantangan utamanya adalah pengelolaan sampah,” terang Sinung.
Menurut legislator PDIP tersebut, Sarka Space memberi solusi nyata dengan mengubah sampah menjadi solar.
“Ini perlu dikembangkan dan disosialisasikan lebih luas agar bisa ditiru komunitas lain,” jelasnya.
Saat ini, produksi bahan bakar alternatif dari Sarka Space masih dalam skala kecil dan tahap riset. Tentu perlu dikembangkan lagi.
“Harapannya ke depan kapasitas produksi bisa ditingkatkan untuk mendukung kemandirian energi dan pengelolaan sampah berkelanjutan,” tandas Sinung. (awi/ian)






