Tuban (beritajatim.com) – Anak komisioner Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Tuban Sutrisno dipulangkan oleh dokter jaga Intalansi Gawat Darurat (IGD) RSUD Koesma Tuban. Padahal, anak usia balita itu diduga mengalami gejala penyakit langka.
Sutrisno mengatakan putranya dibawa ke IGD RSUD Koesma pada Senin (28/4/2025) pukul 19.00 WIB dengan kondisi badan melepuh pada bagian pantat, muka lebam, serta demam tinggi.
“Saat dicek suhu tubuhnya 37 derajat Celcius dan di badannya ditemukan ada bagian yang melepuh,” ujar Sutrisno, Rabu (30/4/2025).
Setelah itu, pasien hendak diberi suntikan antibiotik. Kemudian, ibu si anak menanyakan kepada perawat atau dokter yang jaga, antibiotik tersebut diberikan melalui suntikan lewat infus atau langsung ke kulit.
Dokter atau perawat yang jaga tersebut langsung menjawab, bahwa pasien akan disuntik langsung ke kulit, si ibu pasien yang melihat tubuh anaknya melepuh, tak tega jika langsung disuntik dikulit dan alhasil menolak karena kasihan.
Ibu pasien berharap anaknya disuntik melalui infus. Namun, dokter atau perawat akhirnya tidak jadi memberikan antibiotik ke pasien dan hasil diagnosanya pasien diperbolehkan pulang karena dianggap alergi biasa.
“Saya belum sempat daftar rawat inap. Kurang dari satu jam, anak saya dipulangkan dengan kondisi badan sudah melepuh, padahal kami ingin rawat inap,” tutur Sutrisno.
Karena saat di rumah kondisi anak sudah ruam merah di bagian ketiak, dan punggung. Sempat alami panas kejang dan gemetar, tapi dianggap oleh dokter jaga bisa dirawat jalan karena alergi biasa.
“Setelah dipulangkan dari IGD RSUD Koesma pasien kemudian diberi obat berdasarkan resep dokter dan kondisinya semakin parah dengan kondisi kulit seperti luka bakar 80 persen,” bebernya.
Karena kondisi semakin parah, pada hari Sabtu 26 April 2025 sekitar pukul 06.00 pasien dibawa ke RS Medika Mulia Tuban dan beruntungnya, pasien mendapatkan penanganan cepat, termasuk dokter menanyakan sejak kapan kejadian seperti ini.
“Saat diperiksa, berdasarkan diagnosa dokter RS Medika, hasilnya pasien mengalami panas dalam yang memicu kulit luar melepuh dan alami ruam merah,” terang Sutrisno.
Kemudian, pihak RS Medika mengambil sampel darah pasien dan hasilnya ada infeksi atau terkena penyakit yang namanya Impetigo. Penyakit ini sejenis infeksi kulit yang menular, terutama menyerang usia anak-anak dengan ditandai luka merah dan melepuh yang berisi cairan dan membentuk kerak kuning atau cokelat.
Impetigo bisa disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes yang biasanya muncul di wajah, terutama di sekitar hidung dan mulut, tetapi juga bisa di tangan, kaki, dan area popok.
Akan tetapi, Sutrisno mengatakan, bahwa hasil diagnosa awal putranya terkena Sindrom Stevens-Johnson dan Nekrosis Epidermal Toksik atau penyakit dengan kondisi kulitnya mengelupas yang sangat serius yang disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat-obatan atau suatu penyakit.
“Setelah saya lihat baca di internet, jika terlambat penanganannya penyakit ini bisa mengancam nyawa anak saya, maka dari itu, kami berharap tidak terulang kasus serupa ke anak lain di Kabupaten Tuban,” ungkap Sutrisno.
Selain itu, ia berharap kepada dokter IGD untuk berhati-hati mendiagnosa dan kemudian disuruh pulang, padahal belum dilakukan pemeriksaan uji lab lebih lanjut.
“Kami tidak mempersoalkan tindakan dokter, karena ini adalah kecelakaan. Semoga tidak anak lain di Kabupaten Tuban yang senasib dengan anak saya,” imbuhnya.
Meski begitu, anak dari Komisioner Bawaslu ini sudah ditangani tiga dokter terdiri dari spesialis anak, spesialis kulit dan dokter mata RS Medika Mulia Tuban. Sedangkan, Dokter mata yang ikut memeriksa ini tujuannya untuk memastikan bahwa luka di bagian mata pasien tidak menganggu penglihatan.
Terpisah, Direktur RSUD dr. R. Koesma Tuban, Dr. H. Moh. Masyhudi mengungkapkan, bahwa tindakan dokter jaga sudah benar, sebab berdasarkan melihat diagnosa awal. Sehingga, pemberian resep obat jalan diharapkan pasien bisa kontrol kembali ke RSUD jika belum ada perubahan.
“Saya juga betulkan pasien di bawa ke RS Medika karena orang tua juga ingin anaknya cepat sembuh. Untuk pemulangan pasien, karena menurut dokter jaga bisa diberi obat jalan,” ujar Masyhudi.
Sementara dengan pemberian antibiotik ke anak, orang tua menolak karena kasihan pada anaknya. Akan tetapi, menurut dokter jaga pasien cukup dengan obat jalan. Sehingga, atas kejadian tersebut RSUD Koesma Tuban melakukan evaluasi dan telah memanggil dokter jaga yang bertugas.
“Penyakit SJS ini jarang terjadi dan penanganannya butuh banyak disiplin ilmu. Saya pribadi mengapresiasi pelayanan cepat dari RS Medika,” pungkasnya. [ayu/beq]






