Ada banyak jalan menuju Roma. (Tidak) banyak jalan untuk menjadi legenda Persebaya Surabaya.
Jalan pertama tentu saja melalui jalur prestasi, Mereka yang menjadi bagian dari tim Persebaya yang menjuarai kompetisi Perserikatan dan Liga Indonesia sudah pasti boleh disebut legenda. Apalagi jika kemudian pernah mengantar Persebaya menjadi juara pada saat menjadi pemain dan pelatih sebagaimana Rusdi Bahlawan dan Jacksen Tiago. Sudah pasti mereka legenda sejati.
Jalur lainnya menjadi pahlawan dalam pertandingan krusial. Ini jalur yang diambil pemain asal Jepang Sho Yamamoto.
Dia mencetak gol ketiga yang membawa Persebaya mengalahkan Arema FC 3-2 di Stadion Kanjuruhan, Malang, dalam pertandingan Liga 1 musim 2022-23. Pertandingan itu sendiri menjadi sejarah terburuk sepak bola Indonesia dengan meninggalnya 135 orang penonton.
Legenda tak selamanya disematkan pada sosok pemain dan pelatih. Mochamad ‘Mad’ Drai dinobatkan sebagai legenda karena kesetiaannya bersama Persebaya selama setengah abad.
Bukan hanya karena perannya sebagai pemain Persebaya pada 1969, namun juga sebagai masseur tim hingga menjelang meninggal dunia 11 April 2021. Mungkin hanya Mad Drai yang layak menyandang gelar ‘Mister Persebaya’ karena kesetiaannya itu.
Pemain lain yang layak disebut legenda karena kesetiaannya bersama Persebaya pada masa pasang surut adalah Mat Halil. Dia memperkuat Persebaya selama 14 tahun.
Memperkuat Persebaya senior pada 1999, Halil yang lahir dari kompetisi internal di Surabaya tak hanya menjadi bagian dari perayaan juara liga pada 2004. Dia tetap setia pada saat Persebaya terdegradasi pada 2002, 2005, dan 2010. Halil juga bersama Persebaya pada saat dualisme terjadi.
Setia pada masa muram juga menjadikan Andik Vermansah legenda di kalangan Bonek. Pernyataannya yang menolak pindah saat nasib Persebaya tak jelas karena berkonflik dengan PSSI, membuatnya dihormati. Kendati belakangan dia terlibat polemik dengan Presiden Persebaya Azrul Ananda.
Mario Karlovic, pemain berkebangsaan Australia, menjadi legenda melalui jalur kata-kata slogan. Pernyataannya saat diwawancarai Beritajatim.com, ‘You can’t buy history, history can only be made’, menjadikannya legendaris di kalangan Bonek, karena dilontarkan pada saat PSSI menduplikasi Persebaya.
Legenda melalui jalur kata-kata dan slogan ini bukan barang baru di Surabaya. Bung Tomo menjadi legenda Perang Kota Surabaya bukan karena ikut bertempur, namun karena kata-katanya yang heroik sekaligus puitik saat berpidato jelang 10 November 1945.
Pidato Bung Tomo bisa menggambarkan bagaimana suasana kebatinan para pejuang kemerdekaan di Surabaya saat itu. Sama halnya dengan pernyataan Karlovic yang bisa menjelaskan bagaimana sikap suporter Persebaya terhadap dualisme bikinan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia.
Kematian menjadi jalan lain untuk menjadi legenda Persebaya. Hanya Eri Irianto yang dinobatkan sebagai legenda setelah meninggal dunia pada 2 April 2000, karena mengalami cedera saat pertandingan Persebaya melawan PSIM Yogyakarta.
Eri harus dilarikan ke rumah sakit setelah bertabrakan dengan pemain PSIM asal Gabon, Samson Noujine Kinga. Setelah semua usaha dilakukan tim dokter, dia mengembuskan napas terakhir pada 3 April 2000 dini hari.
Nomor punggung 19 yang biasa dipakai Eri pun dipensiunkan selamanya sebagai bentuk penghormatan. Jersey yang dipakainya dipajang di lemari kaca Wisma Persebaya – yang kemudian diubah menjadi namanya, Wisma Eri Irianto – bersama puluhan trofi juara sebelum wisma itu ditinggalkan karena sengketa Persebaya dengan Pemerintah Kota Surabaya.
Terbaru, Dejan Tumbas, pemain asal Serbia, tengah meniti jalan menjadi legenda melalui perilaku heroiknya saat Persebaya mengalahkan Madura United 1-0, di Gelora Bung Tomo, Minggu (20/4/2025).
Ini pekan ke-29 Liga 1 Musim 2024-25. Persebaya membutuhkan kemenangan untuk menjaga peluang merebut posisi runner-up pada akhir musim, setelah kerepotan menyalip Persib Bandung yang nangkring di peringkat pertama klasemen sementara.
Tak mudah menundukkan Madura United. Tim tersebut tengah berjuang mengamankan diri dari zona degradasi. Mereka tidak punya opsi lain selain menang. Dalam dua pertandingan sebelumnya, anak asuhan Alfredo Vera ini berhasil menundukkan PSIS 2-1 dan Persija 1-0.
Sementara dalam dua pertandingan sebelumnya, Persebaya hanya memetik dua angka setelah ditahan imbang PSIS dan Persija, masing-masing dengan skor 1-1.
Dan benar saja. Ini pertandingan derbi dalam arti sesungguhnya. Panas di lapangan. Wasit Ryan Nanda Saputra mengeluarkan empat kartu kuning dan satu kartu merah untuk Persebaya dan tiga kartu kuning untuk Madura United.
Bek asal Montenegro, Slavko Damjanovic, sempat membuat 13.921 penonton, mayoritas pendukung Persebaya, cemas karena terkena kartu merah langsung setelah mencekik leher Haudi Abdillah pada menit 45+2.
Babak pertama berakhir 0-0. Tak susah untuk menerka, bahwa pada babak kedua para pemain Madura United akan merajalela memanfaatkan kelebihan jumlah pemain. Lulinha, pencetak 12 gol dan tiga assist, dan Youssef Ezzejjari yang sudah mencetak lima gol dan tiga assist musim ini, dimasukkan untuk mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.
Namun terkaan itu meleset. Paul Munster, pelatih Persebaya asal Irlandia Utara, memilih memperkuat pertahanan dengan menarik Toni Firmansyah dan menggantikannya dengan bek Kadek Raditya. Dia juga mengganti penyerang Rizky Dwi Pangestu dengan pemain sayap Kasim Botan yang lebih bisa diharapkan membantu pertahanan.
Semua pemain Persebaya diperintahkan untuk ikut bertahan dan melakukan press saat diserang. Tak ada yang boleh berleha-leha. Bahkan pemain depan Flavio Silva harus bekerja keras lari membuntuti pemain-pemain Madura yang mencoba menerobos pertahanan Persebaya.
Persebaya mengandalkan serangan balik.
Taktik Paul Munster ini bisa dijalankan dengan baik oleh para pemain. Kendati kalah dalam penguasaan bola, Persebaya masih bisa membahayakan gawang Madura United. Persebaya secara keseluruhan melesakkan sembilan kali tembakan ke gawang Madura selama 90 menit plus waktu ekstra. Lima di antaranya tepat sasaran.
Menit 68, Flavio dan Dejan Tumbas merangsek kotak penalti Madura United. Dalam posisi dijepit pemain Madura, Flavio masih bisa menembakkan bola ke gawang Miswar Saputra setelah mendapat operan dari Tumbas.
Gol ini meningkatkan tensi di lapangan. Dalam situasi ini Tumbas menunjukkan mentalitas pemain Eropa Timur. Terjatuh di kotak penalti dengan kepala kena sodok sepatu Jordy Wehrmann tidak meruntuhkan nyalinya.
Pemain berusia 25 tahun itu sempat ditandu keluar lapangan pada menit 77. Bagian kepala bawah kirinya mengalami luka robek.
Namun Tumbas menolak diganti. Dia tetap bermain trengginas dengan kepala dibalut hingga peluit akhir berbunyi. Dia baru dibawa ke rumah sakit setelah Persebaya memastikan tiga angka malam itu.
Malam itu Tumbas menunjukkan arti kosakata ‘ngeyel, ‘ngosek’,’ dan ‘wani’. Tiga kosakata yang lekat dengan mentalitas masyarakat Kota Surabaya. Dia berhasil mencatatkan 26 sentuhan, satu umpan silang akurat, dua drible sukses, memenangi delapan dari 18 duel dan satu duel udara. Dia dilanggar empat kali oleh pemain Madura.
Flavio memang menjadi pahlawan kemenangan. Namun Tumbas yang menjadi pembicaraan di kalangan suporter Persebaya. Foto penampilannya dengan kepala terbalut disandingkan dengan logo ‘Ndas Mangap’, logo pejuang kemerdekaan dengan kain diikatkan di dahi dan tengah berteriak, yang identik dengan Bonek sejak 1988.
Ada pula yang menyamakan penampilan Dejan Tumbas dengan sosok Rambo, pahlawan perang Amerika dalam film, yang senantiasa memakai ikat kepala.
Sebuah tim sepak bola memang membutuhkan gol untuk menang. Namun sering kali para suporter mengidentifikasi pemain yang bertanding dengan hati dan nyali sebagai bagian dari perjuangan yang merepresentasikan filosofi sebuah klub sepak bola seperti Persebaya. Begitulah legenda tercipta. [wir]






