Jember (beritajatim.com) – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember, Jawa Timur, menggunakan strategi DAMRI untuk mengembangkan sektor wisata dirgantaram menyusul pengaktifan kembali Bandara Notohadinegoro.
DAMRI adalah akronim dari lima aspek dalam pengembangan wisata dirgantara, di Jember.
“D di sini adalah dana. Ini tadi Komisi C DPRD Jember dan Dinas Perhubungan sudah memetakan kebutuhan dananya,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember Bambang Rudianto, ditulis Kamis (24/4/2025).
A dalam strategi DAMRI mengacu pada ‘alam’. “Tentunya kami bersinergi dengan PTPN I (dulu PT Perkebunan Nusantara XII),” kata Rudianto.
Bandara Notohadinegoro berada di atas lahan hak guna usaha PTPN I. Pemerintah Kabupaten Jember harus berkoordinasi dengan PTPN I untuk melengkapi infrastruktur bandara. “Hari ini yang jadi skala prioritas adalah hangar untuk lima pesawat yang sudah parkir di Jember,” kata Rudianto.
Aspek ‘M’ berarti adalah ‘manusia’ yang membutuhkan pelatihan di bidang ini. “R adalah regulasi. Sinergi semua stakeholder, lintas organisasi perangkat daerah. vertikal dan horisontal, kita satukan,” kata Rudianto. Terakhir, adalah I yakni integrasi.
Pengaktifan kembali Bandara Notohadinegoro akan memperbanyak opsi jalur transportasi ke Jember, setelah kereta api dan angkutan umum jalan darat. Hal ini positif untuk pengembangan pariwisata.
“Ada beberapa wisata minat khusus yang siap order, terutama dari Bali, ada beberapa turis mancanegara. Hanya karena belum ada reaktivasi bandara, mereka masih cancel,” kata Rudianto.
Rudianto menyebut Jember komplet, memiliki wisata lereng gunung, pantai, perkotaan, wisata religi, maupun wisata heritage. “Kami akan membuat paket perjalanan pariwisata,” katanya.
Wisata dirgantara atau aviasi sempat dijajal dengan pesawat Cesna pada masa pemerintahan Bupati Hendy Siswanto. “Beberapa kali kami coba, bisa melihat view Jember dari udara yang luar biasa. Kalau jalur darat saja kita terbatas. Mau melihat lereng gunung saja, kita butuh waktu sekian hari,” kata Rudianto.
Wisata aviasi ini tidak hanya dengan pesawat bermesin. “Teman-teman paralayang bisa melakukan ini,” kata Rudianto.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Jember Agus Wijaya siap mendukung pembukaan kembali Bandara Notohadinegoro untuk maskapai pesawat sewa dan maskapai pesawat komersial reguler.
“Ini sama-sama bisa kita optimalkan untuk melayani masyarakat, karena ini merupakan pilihan. Mereka bisa menggunakan pesawat komersial, bisa menggunakan pesawat carter,” kata Agus. [wir]






