Mojokerto (beritajatim.com) – Maria Ulfa, perempuan tangguh asal Kota Mojokerto ini sukses mengembangkan usaha yang digeluti sang suami dalam bidang minuman tradisional. Dari Susu, Telur, Maju dan Jahe (STMJ), ia kembangkan menjadi minuman instan hingga tembus omzet Rp20 juta per bulan.
Usaha tersebut dimulai berawal dari membantu sang suami pada 2010 lalu. Sang suami sebelumnya membuka STMJ di Jalan Bhayangkara Kota Mojokerto pada tahun 1985 lalu. Usaha tersebut sukses hingga memiliki sejumlah mitra di sejumlah daerah, seperti Pamekasan, Sidoarjo, Jombang, Gresik dan Mojokerto.
Dan menjadi pelopor STMJ pertama di Kota Mojokerto. Ibu empat anak ini kemudian ikut terjun dengan membuat sirup minuman tradisional, seperti sirup jahe, sirup temulawak, sirup kuyit asam. Namun sirup yang dikemas dalam botol ini punya kendala saat dikirim sehingga ia kemudian beralih ke minuman instan.
“Ada jahe merah dan temulawak instan, ini saya mulai dua tahun kemudian atau di tahun 2012. Namun ada kendala Dalam pengiriman karena menggunakan botol kaca, berat dan rawan pecah. Akhirnya saya coba membuat minuman tradisional dalam bentuk instan,” ungkapnya, Selasa (22/4/2025).
Sehingga tercetus minuman jahe merah instan. Tak hanya jahe merah, perempuan 56 tahun ini, juga memproduksi temulawak instan, kopi rempah, wedang uwuh dan teh daun Afrika yang kaya manfaat. Ia memasarkan produknya melalui sejumlah pameran yang digelar Diskopukmperindag Kota Mojokerto.
“Dulu belum ada online. Saya mulai ikut Diskopukmperindag Kota Mojokerto tahun 2015 dan ikut pameran-pameran, kemudian baru jualan online ya sejak adanya kayak WhatsApp itu. Sekitar 2015-2016. Pemasaran sampai ke Jakarta, Bandung, Sumatera, Nusa Tenggara, Bali. Pulau Jawa, hampir semua daerah,” katanya.
Meski seperti minuman wedang uwuh bukan khas dari Jawa Timur, namun ia mengaku, proses produksinya berbeda. Kebersihan menjadi prioritas dalam pengerjaan produk-produknya terlebih dengan produk wedang uwuh, ia tidak hanya mengandalkan sinar matahari dalam proses pengeringan.
“Kita ada perbedaannya diproses itu, tadi makanya kita tunjukkan bahwa semuanya kita cuci bersih bahannya. Terus kita keringkan ke microwave semua juga jadi mungkin bedanya di situ, misalnya daun kita tidak mengandalkan matahari saja jadi kita juga mengandalkan alat. Untuk jahe butuh empat hari proses pengeringan,” ujarnya.
Ia mengaku saat pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk Indonesia, jahe merah produknya banyak dicari. Dalam satu minggu ia mampu memproduksi 10 kg jahe merah, namun saat ini mengalami penurunan hanya separuh. Lantaran jahe merah banyak khasiatnya, seperti daya tahan tubuh sehingga saat itu ramai.
“Bisa buat flu, greges, tenggorokan gatal batuk dan lain-lain itu. Saat corona kemarin sangat cocok dan jahe merah gandengannya temulawak, itu untuk nafsu makannya. Lumayan tapi tidak seramai saat corona, dulu satu minggunya kita bisa produksi 10 kg jahe merah, sekarang separuhnya. Hanya 5 kg per minggu,” jelasnya.
Jahe merah instan ia jual dengan harga sesuai kemasan. Kemasan pouch 100 gram dengan harga Rp16 ribu, kemasan pouch 200 gram seharga Rp30 ribu, kemasan pouch 500 gram harga Rp60 ribu dan kemasan box kecil isi 5 sachet @25gram dengan harga Rp18 ribu. Ia mengaku dibantu empat orang karyawan.
“Dulu pas corona sampai 10 tapi sekarang ada 4 karyawan, produksinya setiap hari. Semua bisa, tidak per bagian tapi dikerjakan sama-sama. Untuk yang STMJ di Jalan Bhayangkara, dikelola anak yang ketiga. Saya di rumah bagian produksi, menyiapkan bahan-bahan. Makanya dinamankan Faiz dan Sons, Faiz nama suami saya,” tuturnya.
STMJ warisan usaha sang suami tersebut saat ini sudah ada 15 cabang yang ada di sejumlah daerah. Seperti Pamekasan, Sidoarjo, Jombang, Gresik dan Mojokerto. Dari usaha tersebut, warga warga Kelurahan Meri RT 4 RW 3, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto ini mampu meraup omzet hingga Rp250 juta setahun atau rata-rata dalam sebulan sebesar Rp20 juta.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopukmperindag) Kota Mojokerto, Ani Wijaya menambahkan, hingga saat ini ada sebanyak 27.939 Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang dibina oleh Diskopukmperindag Kota Mojokerto.
“Agrobisnis ada sebanyak 483 UMKM, 220 otomatif, 11.086 perdagangan, 15 pendidikan, 2.555 fashion, 8.819 kuliner, 204 teknologi Internet dan 4.557 di bidang jasa. Kuliner salah satunya STMJ dan jahe merah milik Ibu Maria Ulfa ini. Kami melakukan pendampingan dan pembinaan kepada mereka untuk bisa berkembang,” tegasnya. [tin/aje]







