Lamongan (beritajatim.com) – Universitas Islam Darul Ulum (Unisda) Lamongan mengambil langkah progresif di kancah akademik internasional, dengan menyelenggarakan Forum Kerja Sama Penelitian dan Akademik ASEAN, di Aula Gedung Rektorat Lantai 3 Unisda.
Forum bertajuk “Research Without Borders: Strengthening Academic Ties Between Indonesia and the Philippines” tersebut, mempertemukan para akademisi dan peneliti dari Unisda dan Southern Leyte State University (SLSU) Filipina, dalam semangat memperkuat kolaborasi lintas negara di bidang pendidikan dan riset.
Forum ini diawali dengan penampilan seni budaya oleh mahasiswa Unisda, memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada delegasi tamu.
Selanjutnya, oorum kemudian dibuka secara resmi oleh jajaran pimpinan Unisda, mulai dari Rektor hingga para kepala biro dan perwakilan organisasi mahasiswa (ORMAWA).
Rektor Unisda, Muhammad Hafidh Nashrullah, menekankan pentingnya forum ini sebagai upaya nyata dalam memperkuat diplomasi akademik antarnegara ASEAN.
“Kami menyambut hangat kehadiran delegasi dari Southern Leyte State University di Unisda. Kolaborasi seperti ini merupakan bentuk komitmen kami dalam menjawab tantangan global melalui sinergi ilmu pengetahuan. Kami percaya bahwa kerja sama ini akan menghasilkan manfaat besar, tidak hanya bagi institusi, tapi juga bagi masyarakat luas di kedua negara,” kata Hafidh, Rabu (16/4/2025).
Narasumber yang hadir dalam forum ini antara lain Dr. Lillian D. Balbon, Assistant Prof. Ryan C. Negros, Asst. Prof. Louremel Marie L. Muncada, Dr. Gwendolyn C. Tatoy, serta duet kolaboratif Dr. Gary D. Garcia dan Dr. Melvin S. Sarsale dari SLSU. Mereke menyampaikan profil institusi mereka sekaligus mengulas berbagai peluang kolaborasi yang bisa dijalin.
Sementara Dr. Ahmad Sholikin dari Unisda Lamongan, memperkenalkan potensi akademik dan riset yang dimiliki oleh kampus tuan rumah.
“Forum ini digelar sebagai respon terhadap tuntutan globalisasi yang menuntut kerja sama lintas negara, khususnya antara Indonesia dan Filipina yang memiliki banyak kesamaan dalam aspek pendidikan dan sosial budaya,” ujar Hafidh.
Melalui diskusi yang hangat dan presentasi ilmiah yang mendalam, peserta forum mendapatkan wawasan baru tentang pengembangan kapasitas riset dosen, pendekatan interdisipliner, serta potensi kolaborasi riset dan publikasi bersama ke depan.
“Ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, tapi momentum strategis untuk memperluas jejaring akademik dan membuka jalan bagi riset-riset kolaboratif yang berdampak luas,” ujar salah satu peserta forum.
Kegiatan ini ditutup dengan pemberian apresiasi kepada seluruh pembicara sebagai simbol kebersamaan dan harapan akan keberlanjutan kerja sama ini di masa mendatang. Melalui forum ini, Unisda dan SLSU menunjukkan bahwa batas negara bukanlah halangan untuk bersatu dalam pencapaian ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dan berdampak global. [fak/aje]






