Malang (beritajatim.com) – Industri perfilman Indonesia kembali menyuguhkan warna baru lewat kehadiran film horor komedi bertajuk Warung Pocong yang resmi memulai proses syuting. Film ini menjadi sorotan karena menampilkan tiga komika ternama , Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Randhika Djamil sebagai pemeran utama.
Disutradarai oleh BendoLt, Warung Pocong menggabungkan elemen horor dan komedi dalam kisah tiga pemuda, yakni Kartono, Agus, dan Makmur, yang menerima pekerjaan di sebuah warung misterius tanpa menyadari bahwa mereka akan dijadikan tumbal. Dibumbui dengan humor khas para stand-up comedian, film ini diprediksi mampu menghadirkan sensasi menonton yang menghibur sekaligus menegangkan.
“Film ini menghadirkan konsep horor komedi dengan sentuhan humor khas dari para stand-up comedian yang terlibat. Kami ingin menyuguhkan pengalaman menonton yang menegangkan sekaligus lucu,” ungkap sang sutradara, BendoLt, beberapa waktu lalu.
Selain trio komika utama, film ini juga diperkuat oleh deretan aktor berbakat seperti Shareefa Daanish, Arla Ailani, Teuku Rifnu Wikana, Whani Darmawan, dan Kiki Narendra.
Fajar Nugra menyatakan antusiasmenya terhadap proyek ini. “Sebagai komika, tantangan di film ini bukan hanya soal menghidupkan humor di tengah ketegangan, tapi juga membangun chemistry antarpemain agar komedinya terasa alami. Saya yakin film ini akan jadi tontonan yang seru,” ujarnya.
Diproduksi oleh Entelekey Media Indonesia bekerja sama dengan Tiger Picture, Warung Pocong dijadwalkan tayang di bioskop sepanjang tahun 2025. Proyek ini menandai kolaborasi besar yang menghadirkan sinema lokal berkualitas dengan pendekatan cerita yang segar.
Sinopsis Film Warung Pocong: Terjebak di Desa Maut
Tiga pemuda asal Jakarta, Kartono, Agus, dan Makmur, tengah berjuang menghadapi tekanan finansial. Saat sebuah tawaran pekerjaan dengan gaji menggiurkan datang, mereka langsung menerimanya tanpa pikir panjang. Pekerjaan tersebut membawa mereka ke desa terpencil bernama Lali Jiwo, yang ternyata menyimpan rahasia mengerikan.
Di tengah kejadian-kejadian janggal yang mereka alami, perlahan terungkap bahwa desa tersebut bukan tempat biasa dan pekerjaan mereka hanyalah awal dari teror nyata. Siapa Kusno, pria tua yang membawa mereka ke sana? Mampukah mereka selamat dan menemukan jalan keluar dari desa yang terlupakan waktu itu? (dan/but)






