Jember (beritajatim.com) – Panen raya menyebabkan harga gabah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, turun. Komisi B DPRD Jember mendesak sistem resi gudang (SRG) diaktifkan untuk membantu petani dan Badan Urusan Logistik (Bulog).
SRG adalah sistem yang membantu petani, nelayan, dan pelaku usaha menyimpan hasil panen mereka sebelum dijual. Kabupaten Jember memiliki sebuah gudang SRG di Kecamatan Ajung yang dapat digunakan untuk menyimpan komoditas dalam sistem tersebut.
Ketua Komisi B Candra Ary Fianto berpendapat gudang SRG bisa digunakan untuk mengatasi persoalan rendahnya harga gabah yang dihadapi petani saat panen raya seperti saat ini.
“Beberapa hari ini, termasuk sebelum lebaran, kami menerima banyak keluhan petani (soal rendahnya harga) menyusul panen raya 39 ribu hektare sawah pada medio April ini, dengan target produksi kurang lebih 59 ribu ton gabah,” kata Candra, Minggu (13/4/2025).
Komisi B sebenarnya sudah meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) mengantisipasi serapan panen raya pertama. “Namun kondisinya hari ini masih banyak gabah yang diserap di bawah HPP (Harga Pembelian Pemerintah) Rp 6.500 per kilogram,” kata Candra.
Candra mencontohkan harga gabah yang berkisar hanya Rp 4.500 per kilogram di Kecamatan Ledokombo dan Rp 5 ribu per kilo di Kalisat. “Petani terpaksa menjual dengan harga di bawah HPP karena tidak memiliki lahan untuk penjemuran dan mereka khawatir mutu gabah turun (kalau terlalu lama disimpan),” katanya.
Situasi ini, menurut Candra, jauh dari Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025. “Inpres itu mengatur pengadaan dan pengolahan gabah atau beras dalam negeri, untuk meningkatkan cadangan beras dan ketahanan pangan nasional, dan swasembada yang ujungnya meningkatkan pendapatan petani,” katanya.
Candra mengingatkan tugas Bulog untuk menjaga stabilitas harga dan menyerap gabah. “Saat ini peluang Bulog sebanyak-banyaknya menyerap gabah untuk ketahanan pangan dan swaembada pangan,” katanya.
Sebagai solusi, Candra berharap gudang SRG di Jember dengan kapasitas dua ribu ton segera bisa dimanfaatkan untuk membantu Bulog dan petani dalam menyimpan gabah.
“Apalagi sistem resi gudang bukan sekadar menampung hasil panen dan disimpan di gudang. Tapi ada sistem jaminan harga,” katanya. SRG ini membantu petani memperkuat posisi tawar petani dan membantu tujuan pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Candra mendengar, berdasarkan hasil rapat koordinasi SRG terakhir pada Februari 2025, Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) Kementerian Perdagangan RI sudah mengarahkan agar gudang SRG di daerah dimanfaatkan untuk mendukung penyerapan gabah petani oleh Bulog.
Candra menyebut informasi itu sebagai kabar baik bagi petani. Apalagi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember menyebut fisik Gudang dalam kondisi baik dan bisa berfungsi. “Bila ada hal-hal yang kurang mungkin terkait dengan kerusakan-kerusakan kecil, misalnya lampu-lampu yang mati, bocor rembes, dan lain-lain,” katanya.
Gudang SRG ini berstatus barang milik daerah (BMD) Pemkab Jember. Namun secara fungsional, SRG berada dalam kendali Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) Kementerian Perdagangan RI, dan saat ini belum aktif. [wir]






