Washington (beritajatim.com) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 9 April 2025 mengumumkan penangguhan sementara kebijakan tarif timbal balik selama 90 hari untuk lebih dari 75 negara.
Dalam keputusan tersebut, tarif dasar diturunkan menjadi 10% bagi negara-negara yang tidak menerapkan kebijakan dagang balasan terhadap AS. Indonesia sebelumnya oleh Amerika dikenal Tarif sebesar 32%.
Trump menyatakan bahwa dirinya telah menyetujui kebijakan jeda selama 90 hari untuk tarif timbal balik, disertai penurunan tarif sementara menjadi 10 persen selama masa jeda tersebut. Kebijakan ini juga berlaku secara langsung.
“I have authorized a 90 day PAUSE,” kata Trump dalam akun media sosial White House
Lihat postingan ini di Instagram
Namun, kebijakan ini tidak berlaku bagi China. Sebaliknya, Trump justru menaikkan tarif terhadap impor dari Negeri Tirai Bambu dari sebelumnya 104% menjadi 125%.
Ia menuding Beijing tidak menunjukkan itikad baik dalam perundingan dan melakukan tindakan balasan yang dianggap merugikan kepentingan ekonomi Amerika.
Kebijakan ini memunculkan kejutan di pasar global dan disambut positif oleh banyak negara mitra dagang AS. Trump menyebut bahwa langkah ini ditujukan untuk meredakan kekhawatiran terhadap potensi krisis ekonomi yang membayangi akibat perang dagang.
Analis menilai penangguhan tarif ini bisa membuka peluang baru bagi negara-negara yang selama ini menjalin hubungan dagang dengan AS untuk menyusun perjanjian baru yang lebih saling menguntungkan.
Namun, pengecualian terhadap China semakin menegaskan memburuknya hubungan dagang antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut.
Langkah ini menjadi sorotan utama di pasar keuangan global. Banyak pihak melihatnya sebagai strategi Trump untuk menyeimbangkan tekanan dalam negeri dengan dinamika geopolitik dan ekonomi global yang terus berkembang.
Reaksi Pasar Global
Pasar global mengalami volatilitas signifikan sebagai respons terhadap pengumuman tarif Presiden Trump dan jeda yang menyusul. Sementara pasar AS menguat, reaksi internasional beragam:
Pasar Eropa awalnya turun, dengan indeks utama seperti FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC 40 Prancis masing-masing jatuh lebih dari 2%1. Namun, pasar-pasar ini kemudian pulih setelah pengumuman jeda tarif Trump.
Pasar Asia, terutama yang terkait erat dengan ekonomi China, mengalami rebound tajam setelah berita jeda tarif.
Pemulihan ini terjadi setelah beberapa hari penurunan tajam yang dipicu oleh kekhawatiran meningkatnya ketegangan perdagangan.
Cryptocurrency dan saham terkait crypto melonjak seiring dengan pasar tradisional, dengan Bitcoin dan aset digital lainnya mengalami kenaikan harga yang signifikan34. Lonjakan di sektor crypto ini menyoroti semakin terhubungnya pasar keuangan digital dan tradisional di masa ketidakpastian ekonomi global.
Pasar Saham
Reaksi pasar yang beragam ini menyoroti dampak kompleks dan luas dari kebijakan perdagangan AS terhadap ekonomi global, dengan investor yang terus memantau perkembangan untuk potensi perubahan dalam dinamika perdagangan internasional.
Perubahan mendadak dalam kebijakan perdagangan AS telah memicu kekhawatiran tentang dampak ekonomi yang lebih luas, dengan para ekonom memperingatkan potensi konsekuensi jangka panjang:
* Goldman Sachs meningkatkan probabilitas resesi AS menjadi 45%, dengan kepala ekonom Jan Hatzius memprediksi penurunan suku bunga sebesar 200 basis poin oleh Federal Reserve tahun ini.
* Uni Eropa merespons dengan tarif balasan yang ditargetkan pada sektor-sektor tertentu di AS, menyoroti risiko meningkatnya ketegangan perdagangan.
* Analis memperingatkan bahwa meskipun Trump mengklaim akan merevitalisasi manufaktur AS, banyak dari langkah tarif ini dapat menyebabkan kenaikan harga dan berdampak negatif pada konsumen Amerika.
* Ekonomi global telah mengalami ketidakpastian yang signifikan sejak Trump menjabat, dengan kepercayaan konsumen dan bisnis menurun serta pertumbuhan ekonomi melambat.
Meskipun jeda 90 hari telah memberikan kelegaan sementara, peningkatan tarif terhadap China menjadi 125% dan pemeliharaan tarif dasar sebesar 10% pada negara-negara lain menunjukkan bahwa ketegangan perdagangan tetap menjadi ancaman signifikan bagi stabilitas ekonomi global. (ted)






