Surabaya (beriitajatim.com) – Seni lukis modern Indonesia dapat disimpulkan dalam periodisasi global berikut:
– 1830-1920: Masa awal (Raden Saleh, Mas Pringadie)
– 1920-1930: Pengaruh Barat kuat pada seni lukis Indonesia (melalui buku bergambar, sekolah Barat, dan film)
– 1930-1942: Keberanian pertama pelukis Indonesia tampil di publik (penjualan di jalanan)
– 1942-1945: Masa pendudukan Jepang – seni lukis (termasuk poster) menjadi senjata perang spiritual
– 1945-1950: Sedikit kemunduran selama perjuangan kemerdekaan
Ternyata pengaruh Barat pada seni lukis Jepang berlangsung lama (sekitar empat abad) dan sangat intensif. Di negara Asia lain seperti Cina, Filipina, dan India, pengaruhnya tidak terlalu lama namun tetap terlihat. Sekolah seni Amerika menjadi penghubung seni lukis Barat di dua negara pertama.
Di India, pengaruh seni lukis Eropa kurang dikenal tapi sudah ada sejak abad ke-17. Dua abad kemudian, nama-nama seperti Alagri Naidu dan Radja Ravi-varma dari Travancore menjadi populer dengan karya yang sangat terpengaruh Barat. “Government Schools of Art” di Calcutta, Bombay, Madras, dan Lahore turut memperkenalkan teknik lukis Barat di India.
Berbeda tajam dengan yang terjadi di Hindia Belanda, di mana hampir tidak ada upaya memajukan seni. Baik pemerintah maupun swasta tidak menunjukkan minat pada hal budaya. Tanpa minat, tidak ada yang dilakukan.
Pemerintah baru tampaknya lebih memperhatikan kepentingan budaya Indonesia. Awal 1950 (tak lama setelah penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949), sebuah Akademi Seni Rupa dibuka (atau dibuka kembali?) di Yogyakarta. Akademi ini masih memiliki program terbatas, tapi setidaknya sudah ada upaya meningkatkan standar seni Indonesia. Ini penting agar Indonesia tidak tertinggal dari negara Asia lain.
Di masa Hindia Belanda, hanya masalah politik dan ekonomi yang diutamakan. Masalah sosial dan budaya diabaikan, menciptakan gambaran masyarakat yang tidak seimbang. Pengamat dangkal mungkin melihat semuanya baik-baik saja, tapi yang melihat lebih dalam akan menemukan banyak kekurangan dan meramalkan ketidakseimbangan ini akan terasa saat Indonesia merdeka.
Kini saatnya tiba – Indonesia harus mandiri, termasuk dalam budaya. Seperti orang yang masuk lingkaran intelektual, kemampuan spiritual dan artistiknya akan dinilai. Jika terlalu ringan, paling-paling hanya ditoleransi.
Demikian pula dengan bangsa muda yang ingin mendapat tempat di orkestra dunia. Prestasi mereka menentukan apakah akan memainkan biola pertama atau sekadar triangle. Semoga pemerintah baru memandang budaya sebagai bagian integral masyarakat, bukan sekadar pelengkap seperti dulu.
Pemajuan budaya perlu dana seperti bidang lain – pendidikan, bantuan sosial, infrastruktur, peradilan. Jika hanya mengejar keuntungan materi, lebih baik tidak usah memajukan budaya. Itulah mengapa dulu tidak dilakukan.
Tapi masa itu sudah lewat. Investasi di budaya mungkin tidak langsung memberi dividen tinggi, tapi jika sudah berjalan baik, akan memberi manfaat permanen untuk Indonesia. Budaya tidak bisa diukur tapi pengaruhnya nyata.
Kembali ke seni lukis Indonesia modern, cara memajukannya antara lain:
a. Mendirikan sekolah melukis – mulailah dengan skala kecil, jangan meniru mentah-mentah contoh asing
b. Mendirikan Museum Seni Modern – untuk membandingkan kemajuan seni Indonesia dengan luar negeri
c. Membentuk asosiasi seniman – untuk memperjuangkan kepentingan artistik dan materi seniman
d. Menghindari peniruan “-isme” yang tidak diinginkan dalam seni lukis
Seperti moto artikel ini: “Peradaban bukan Timur atau Barat, tapi hasil stimulasi dan koreksi timbal balik usaha manusia Timur dan Barat.” Barat telah banyak belajar dari Timur selama berabad-abad, kini giliran Timur belajar teknik dari Barat. [but]
*) Terjemahan bebas dari tulisan G.H. von Faber (Direktur Pendidikan Umum) yang dimuat di koran berbahasa Belanda “De vrije pers: ochtendbulletin” (27-04-1950).






