Gresik (beritajatim.com) – Umat Hindu di Kabupaten Gresik baru saja menggelar pawai ogoh-ogoh di Desa Laban, dan Desa Pengalangan, Kecamatan Menganti. Ribuan umat Hindu mengarak keliling puluhan ogoh-ogoh berukuran besar melintasi ruas jalan, serta pemukiman warga. Pawai tersebut sebagai bukti kerukunan umat beragama antara Hindu dan Islam di Kabupaten Gresik sudah terjalin puluhan tahun.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, Kabupaten Gresik, Kusno menuturkan, pihaknya mengapresiasi pemerintah daerah dan masyarakat pemeluk agama lain. Sehingga, dapat menjalankan ibadah dengan tenang serta nyaman.
“Kami mengapresiasi dukungan warga Gresik. Ini bukti kerukunan umat Hindu dan Islam tidak diragukan lagi,” tuturnya, Minggu (11/03/2024).
Sebelumnya, ribuan umat Hindu Gresik mengarak ogoh-ogoh. Hal ini dilakukan sebagai simbol roh jahat, atau kekuatan negatif yang diarak keliling saat perayaan ritual tawur agung kesanga menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1946.
Umat Hindu yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Menganti. Sepanjang perjalanan melakukan arak-arakan. Pawai tersebut, mendapat sambutan antusias warga. Bahkan, warga dari berbagi agama lain juga turut meramaikan arak-arakan.
Mereka rela berdesak-desakan demi menyaksikan prosesi pembakaran ogoh-ogoh di Pura Jagad Dumadi, Desa Laban, Kecamatan Menganti.
Ketua Panitia Hari Raya Desa Pengalangan, Gunawan mengatakan, beragam ogoh-ogoh menggambarkan sifat keangkaramurkaan dalam diri manusia harus dihilangkan dengan cara dibakar.
“Setelah sifat angka murka hilang maka sifat manusia akan kembali bersih untuk melaksanakan Catur Brata,” katanya.
Kirab ogoh-ogoh di Kabupaten Gresik itu, rutin dilaksanakan setiap tahun. Pawai ini selalu menarik perhatian warga sekitar. Kendati umat Hindu minoritas tetapi mereka saling menghormati sesama agama lain. Sebagai wujud toleransi antar umat beragama. (dny/ian)






