Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami koreksi tajam usai libur panjang, dipicu oleh kebijakan tarif impor tinggi yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Salah satu kebijakan yang paling berdampak adalah pengenaan tarif impor hingga 49 persen untuk seluruh negara, termasuk Indonesia yang dikenakan tarif sebesar 32 persen untuk berbagai produk ekspor.
Namun, kabar baik datang ketika Trump mengumumkan penangguhan sementara selama 90 hari terhadap kebijakan tarif tersebut. Seluruh negara, kecuali China, kini dikenakan tarif umum sebesar 10 persen. Pemerintah Indonesia pun menyatakan kesiapan berdialog dengan AS terkait tarif baru ini, sekaligus menyusun langkah-langkah penyederhanaan regulasi ekspor dengan menghapus Non-Tariff Measures (NTMs) yang menghambat perdagangan internasional.
Meski ada penangguhan, gejolak pasar global tak terhindarkan. Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah dengan menembus Rp17.101 per dolar AS. Sentimen negatif juga menyebar di Bursa Wall Street dan sejumlah bursa Asia, yang turut mempengaruhi pasar saham Indonesia.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas Krisna Ramadhani menegaskan bahwa penurunan IHSG mencerminkan proyeksi pelemahan ekonomi nasional dalam beberapa bulan ke depan.
“Sebagai indikator awal perekonomian atau leading indicator, IHSG memberikan sinyal penting mengenai arah perekonomian Indonesia ke depan dan oleh karena itu pergerakan IHSG harus diperhatikan dengan seksama oleh para investor,” ujarnya di Jakarta.
Dimas mengingatkan bahwa ruang gerak kebijakan moneter Indonesia saat ini terbatas, dan diperlukan strategi ekonomi yang lebih tajam untuk merespons tekanan global. Ia juga mengkritisi kebijakan Auto Reject Below (ARB) 15 persen yang dinilai memperparah keringnya likuiditas pasar, meski tetap mengapresiasi langkah trading halt sebagai penahan tekanan jual berlebihan.
Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa potensi perlambatan ekonomi global bisa berdampak signifikan pada Indonesia.
“Jika ekonomi global mengalami perlambatan, Indonesia juga berisiko mengalami hal yang sama,” kata Dimas.
Ia memproyeksikan bahwa IHSG masih memiliki ruang koreksi, dengan target jangka pendek di kisaran level 5.500. Oleh karena itu, Dimas mengimbau investor untuk tetap disiplin menjalankan trading plan, mengevaluasi portofolio, menjaga kondisi keuangan, dan tidak mengambil keputusan emosional.
Sebagai panduan menghadapi pasar yang volatile, Dimas membagikan empat tips:
- Hindari terlalu sering melihat floating loss; fokus pada evaluasi kesalahan dan disiplin terhadap trading plan.
- Lakukan evaluasi portofolio, bedakan saham yang masih sesuai rencana dan yang harus di-cut loss.
- Pastikan kondisi keuangan tetap sehat, jauhi utang untuk berinvestasi.
- Tingkatkan pemahaman teknikal dan siklus pasar, serta bersabar menghadapi volatilitas.
Terakhir, Dimas mengajak investor untuk aktif memantau perkembangan pasar melalui fitur IPOT Buzz di aplikasi IPOT dari Indo Premier Sekuritas, sebagai ruang diskusi dan update pasar secara real-time. [beq]






