Surabaya (beritajatim.com) – Tiga mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair), mendirikan komunitas Colourise untuk membantu pendidikan anak-anak penderita kanker.
Ketiga mahasiswa itu antara lain Muhimatul Khoiriyah, Anisa Nanda Shafira, dan Haikal Wiranata. Keprihatinan atas tingginya adiksi gawai pada anak-anak kanker di Yayasan Peduli Kanker Anak Indonesia (YPKAI) Surabaya mendorong mereka untuk berinisiatif.
Colourise menawarkan terapi seni lukis berbasis aplikasi dengan metode storytelling sebagai alternatif hiburan dan edukasi, untuk mengurangi ketergantungan gawai. Aplikasi ini menyediakan pembelajaran sesuai Kurikulum Merdeka jenjang SD dan SMP.
“Anak-anak kanker perlu perhatian khusus. Mereka hanya dianggap rentan pada aspek kesehatan, sedangkan aspek lain seperti pendidikan kurang diperhatikan,” ujar Muhimatul, ditulis Rabu (9/4/2025).
Hima, sapaannya itu, mengungkapkan bahwa anak-anak diajak melukis untuk mengekspresikan emosi dan menguji pemahaman mereka terhadap tema cerita yang diberikan. Hasil karya lukis kemudian dipasarkan melalui platform e-commerce, dengan keuntungan dikembalikan kepada anak-anak sebagai motivasi ekonomi.
Komunitas ini menghadapi tantangan pendanaan, yang diatasi dengan mengikuti kompetisi proyek sosial seperti PFMuda dan Innovillage. Colourise berkolaborasi dengan YPKAI Surabaya, PT Telkom Indonesia (program CSR Innovillage), BSO SKI FIB UNAIR, dan beberapa komunitas lain.
Salah satu pengalaman berkesan bagi tim Colourise adalah antusiasme tinggi seorang anak perempuan berusia tiga tahun terhadap program ini, yang memotivasi mereka untuk terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak YPKAI.
Ke depan, Colourise berharap dapat menjangkau lebih banyak anak penderita kanker dan memberikan akses pendidikan yang lebih inklusif, selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs).
Mereka berupaya menciptakan lingkungan suportif dengan fasilitas melukis yang nyaman dan akses pendidikan yang lebih baik. “Kami ingin menciptakan lingkungan yang lebih suportif dengan fasilitas melukis yang nyaman dan akses pendidikan yang lebih baik,” tutup Hima. [ipl/beq]






