Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Bidang Ilmu Genetika dan Reproduksi Ikan Prof Akhmad Taufiq Mukti membuat terobosan baru dalam pengoptimalan produktivitas akuakultur.
Prof Taufiq menyampaikan, tahun 2023, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan kontribusi perikanan Indonesia sebesar 30,4 juta ton melalui produksi tangkap dan akuakultur.
Target itu, kata guru besar Fakultas Perikanan dan Kelautan ini, menjadi upaya untuk mengejar ketertinggalan produksi perikanan Indonesia di dunia, terutama di tingkat Asia.
Baca Juga: Kampus Beraksi Tuban untuk Disabilitas dan eks ODGJ Masuk Nominasi 3 Besar Se-Jatim
“Dengan mendorong kontribusi akuakultur sebesar 68 persen, produktivitas akuakultur menjadi tantangan yang harus kita tingkatkan untuk mencapai target tersebut,” jelas Prof Taufiq, ditulis Jumat (27/10/2023).
Menurutnya, kunci keberhasilan untuk meningkatkan produktivitas akuakultur bergantung pada kualitas benih. Benih ikan harus memiliki kualitas dan performa baik sehingga upaya peningkatannya bisa segera tercapai.
“Faktor utama dalam meningkatkan akuakultur adalah ketersediaan benih ikan yang berkualitas dengan performa yang tinggi, tahan terhadap penyakit, kelulushidupan tinggi, serta toleransi terhadap tekanan lingkungan,” terangnya.
Baca Juga: Persatuan Tuna Netra Tuban Gelar Parade Tongkat Putih Sedunia
Ia menerangkan, jika produksi benih berkualitas tinggi itu harus berjalan beriringan dengan kuantitasnya. Optimalisasi kualitas dan kuantitas benih ikan akan menjadi penyokong utama dalam meningkatkan produktivitas akuakultur yang ada di Indonesia.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Taufiq juga menyampaikan berbagai upaya yang dapat meningkatkan kualitas benih, salah satunya lewat rekayasa genetik. Metode rekayasa yang ia pakai juga tidak terbatas, yakni memakai metode klasik dan juga modern.
Untuk membuktikan klaimnya itu, ia kemudian berkolaborasi dengan sejumlah pihak luar kampus, misalnya Hatchery Nila Kekar (HNK) Pasuruan. Ia melakukan rekayasa genetik berupa manipulasi kromosom seks untuk memproduksi ikan nila super dengan kromosom YY.
Baca Juga: Gadis 17 Tahun yang Disetubuhi Ayah, Kakek, dan Paman Masih Trauma, Mensos: Kami Amankan di Balai
“Bersama HNK kita sedang mengembangkan bagaimana memproduksi ikan dengan kromosom YY. Sehingga kalau YY ini kawin dengan XX anaknya adalah jantan semua dan HNK sudah mendapatkannya. Ikan nila itu produksinya lebih cepat jantan sehingga kenapa sekarang tumpuannya adalah memproduksi jantan secara masal,” ungkapnya.
“Sekarang lagi perkembangan betina YY. Sehingga nantinya tidak lagi perlakuan, tetapi sudah bisa manipulasi alami,” imbuhnya.
Berdasarkan efisiensi, efektivitas, dan kemudahannya, Prof Taufiq mengatakan jika adopsi metode rekayasa genetik seharusnya dapat tersebar ke masyarakat luas. Dengan perluasan itu, rekayasa bukan hanya akan membantu masyarakat dalam perekonomian, melainkan juga membantu pemerintah mempercepat pencapaian targetnya.
“Rekayasa genetik menjadi alternatif pilihan yang potensial untuk berkembang di masyarakat sebagai upaya membantu pemerintah dalam peningkatan produktivitas akuakultur Indonesia,” pungkasnya. [ipl/ian]






