Surabaya (beritajatim.com) – Nama Ruben Onsu kembali menjadi perbincangan hangat publik, terutama di jagat maya, usai dirinya memutuskan memeluk agama Islam. Keputusan presenter dan pengusaha tersebut menjadi mualaf langsung menyita perhatian warganet.
Namun, alih-alih disambut positif oleh semua kalangan, Ruben justru menerima sindiran tajam dari sejumlah pengguna media sosial. Salah satunya dengan menyebutnya sebagai “Yudas.”
Dalam sebuah siaran langsung di TikTok, Ruben terlihat tengah mempromosikan produk. Namun di tengah aktivitasnya itu, kolom komentar ramai dengan julukan “Yudas” yang dialamatkan kepadanya.
Kendati demikian, Ruben tetap tenang dan memberikan tanggapan santun terhadap komentar-komentar negatif tersebut.
“Ucapan yang baik, doa yang baik akan berbalik baik. Ucapan buruk, cacian buruk akan kembali lagi ke dirinya masing-masing. Aamiin, Aamiin,” ujar Ruben dengan penuh ketenangan.
Pernyataan tersebut menuai pujian dari banyak pengikutnya yang menyayangkan tindakan sebagian netizen yang memilih menghakimi keputusan spiritual seseorang.
Namun, siapa sebenarnya sosok Yudas yang digunakan sebagai julukan terhadap Ruben?
Mengenal Sosok Yudas Iskariot dalam Sejarah Kristen
Sosok Yudas Iskariot dalam ajaran Kristen memiliki latar belakang pengkhianatan terhadap Tuhan.
Yudas Iskariot merupakan salah satu dari dua belas murid utama Yesus Kristus dalam ajaran Kristen. Namanya menjadi simbol pengkhianatan karena dialah yang menyerahkan Yesus kepada para imam besar dan pemimpin agama Yahudi, dengan imbalan 30 keping perak.
Dalam catatan Alkitab, Yudas menjabat sebagai bendahara di antara para rasul. Namun, menurut Injil Yohanes 12:5-6, Yudas kerap menyalahgunakan uang yang dipercayakan kepadanya, bahkan dituduh mencuri demi kepentingan pribadi.
Buku Paradoks Iman Kristen (2021) menjelaskan bahwa keserakahan Yudas membuatnya melihat Yesus sebagai “komoditas” yang bisa ditukar dengan uang.
Namun setelah mengetahui bahwa Yesus dijatuhi hukuman mati, Yudas menyesal dan mencoba mengembalikan uang tersebut. Penyesalan itu, sayangnya, tidak disertai pertobatan. Ia akhirnya mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, seperti tercatat dalam Matius 27:3-5. (fyi/but)






