Surabaya (beritajatim.com) – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menegaskan posisinya sebagai bank pembayar zakat terbesar di Indonesia dengan kontribusi signifikan kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Sejak berdiri pada tahun 2021 hingga akhir 2024, BSI telah menyalurkan zakat dengan nilai total mencapai Rp787,5 miliar, menunjukkan komitmen kuat dalam memberikan manfaat sosial.
Data menunjukkan peningkatan nilai zakat yang diserahkan BSI dari tahun ke tahun. Pada tahun 2021, BSI menyalurkan zakat sebesar Rp123,17 miliar, kemudian meningkat menjadi Rp173,06 miliar pada tahun 2022, kembali naik menjadi Rp222,77 miliar pada tahun 2023, dan mencapai Rp268,5 miliar pada tahun 2024.
Plt. Direktur Utama BSI, Bob T. Ananta, secara simbolis menyerahkan zakat tersebut kepada Ketua BAZNAS, K.H Noor Achmad, dalam acara bertajuk Cahaya Zakat di Istana Negara, Jakarta. Penyerahan ini disaksikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Bob menjelaskan bahwa penyaluran zakat ini merupakan komitmen BSI sebagai institusi keuangan syariah untuk mengalokasikan 2,5% zakat dari laba operasional perusahaan serta zakat karyawan. Selain itu, BSI juga memfasilitasi nasabah untuk membayar zakat melalui berbagai saluran, termasuk platform digital BYOND by BSI.
“Alhamdulillah, peningkatan zakat sejalan dengan pertumbuhan laba bersih Perusahaan yang solid. Karena laba tumbuh double digit maka pembayaran zakat pun sejalan,” ujar Bob.
Kontribusi BSI pada tahun 2024 yang mencapai Rp268,5 miliar bahkan mencakup lebih dari 50% dari target pengumpulan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang ditetapkan oleh BAZNAS selama Ramadan 2025/1446 H, yaitu sebesar Rp509,5 miliar. Target BAZNAS tahun ini meningkat 18,4% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp430 miliar.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasinya terhadap peran zakat dalam memperdalam rasa syukur, mengurangi ketimpangan sosial, dan mewujudkan keadilan sosial. Presiden juga menekankan potensi besar zakat nasional yang mencapai Rp327 triliun, sementara penerimaan saat ini baru Rp41 triliun. Ia meyakini bahwa optimalisasi zakat dapat menjadi solusi untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di Indonesia.
Ketua BAZNAS, K.H Noor Achmad, menyampaikan bahwa penyerahan zakat secara simbolis di Istana Negara memberikan dampak positif yang signifikan, memacu peningkatan pembayaran zakat dari masyarakat di seluruh Indonesia dengan pertumbuhan 30%-40% per tahun. Ia juga menggarisbawahi potensi zakat yang sangat besar dan perlunya upaya maksimalisasi oleh BAZNAS dan seluruh lembaga amil zakat (LAZ).
“Alhamdulillah muzaki berkembang, pada 2023 mencapai 27 juta orang. Dan pada 2024 mencapai 28,1 juta orang. Artinya masyarakat Indonesia masyarakat luar biasa memiliki kepedulian menyisihkan sebagian hartanya untuk yang berhak menerima bantuan,” ujar K.H Noor Achmad.
Dana zakat yang disalurkan BAZNAS digunakan untuk berbagai sektor penting seperti ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Ketua BAZNAS juga mengapresiasi kontribusi BSI sebagai penyalur zakat terbesar. “Alhamdulillah pula ada zakat terbesar diberikan oleh Bank Syariah Indonesia sebesar Rp268,5 miliar,” tuturnya.
Efektivitas penyaluran zakat melalui BSI semakin meningkat dengan adanya e-channel perseroan. Hingga 19 Maret 2025, penghimpunan zakat melalui e-channel BSI telah mencapai Rp11,87 miliar secara year to date.
Pembayaran zakat semakin mudah melalui aplikasi BYOND by BSI, yang bahkan menyediakan layanan khusus pembayaran zakat fitrah selama bulan Ramadan. BYOND bekerja sama dengan berbagai LAZ nasional terpercaya, termasuk BAZNAS, BSI Maslahat, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Rumah Yatim, DT Peduli, dan 18 LAZ lainnya.[rea]






