Surabaya (beritajatim.com) – Research Group Tobacco Control, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia pada Senin (24/3/2025).
Acara bertema “GIATKAN! Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis” ini menekankan pentingnya upaya pencegahan dan pengobatan dini penyakit TBC di Indonesia.
Saat ini, Indonesia masih menghadapi beban kasus TBC yang tinggi, dengan menempati posisi kedua dunia setelah India. Berdasarkan Global TB Report 2024, terdapat sekitar 1.090.000 kasus TBC dengan angka kematian mencapai 125.000 per tahun.
Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi TB paru stagnan di angka 0,4%, sementara prevalensi pneumonia meningkat. Jawa Timur sendiri mengalami peningkatan signifikan kasus TBC, dari 53.289 kasus pada 2021 menjadi 81.753 kasus pada 2022. Pada tahun 2024, cakupan penemuan kasus di Jawa Timur baru mencapai 61,10% dari estimasi total kasus sebesar 116.752.
Dokter Spesialis Paru, dr. Wiwin Is Effendi, menekankan pentingnya pengobatan dan pencegahan yang terintegrasi setelah deteksi kasus. Ia menyebut teknologi canggih kini tersedia untuk diagnosis TBC.
“Setelah TB dideteksi pada penemuan kasus, pengobatan hingga pencegahan harus in-line, tidak boleh ada kasus yang lolos tidak tertangani, sehingga pencegahan dan pengobatan TB bisa tuntas terselesaikan. Saat ini sudah sangat banyak teknologi canggih yang dapat digunakan untuk diagnosis kasus TB,” katanya.
Ia menyebut, pemerintah telah menyediakan Program Cek Kesehatan Gratis (PKG) untuk deteksi dini berbagai penyakit, termasuk TBC. Program Quick Win pemerintah juga fokus pada skrining aktif, pengobatan preventif, dan optimalisasi layanan untuk menurunkan kasus TBC.
Dr. Wiwin menambahkan bahwa stigma negatif terhadap TBC masih menjadi tantangan, meskipun edukasi telah gencar dilakukan. “Obat dan perawatan sudah disediakan oleh pemerintah, sehingga perlu peran berbagai pihak untuk bersama-sama meluruskan hal tersebut, termasuk peran media komunikasi dan media massa” ujar dr. Wiwin.
Sementara itu, Dekan FKM Unair, Prof. Santi Martini, menyoroti masalah kepatuhan pengobatan yang menyebabkan resistensi obat. Kata dia, pengobatan TBC yang memakan waktu sekitar 6 bulan membutuhkan kepatuhan tinggi dari pasien.
“Obat TBC sudah ada dan sudah tersedia, dapat diperoleh secara gratis di fasilitas kesehatan seperti puskesmas, namun permasalahannya adalah banyak yang tidak patuh terhadap pengobatan, sehingga menyebabkan resistensi obat. Hal ini mempersulit pengobatan TB hingga tuntas,” jelasnya.
Merokok menjadi faktor risiko tinggi kedua setelah malnutrisi untuk TBC di Indonesia. Perokok memiliki risiko 73% lebih tinggi terinfeksi TBC. Prof. Santi dan dr. Wiwin juga sepakat bahwa pendekatan yang fokus pada faktor risiko, seperti kebijakan kenaikan cukai rokok, sangat penting.
Secara garis besar, Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia ini menyoroti perlunya gerakan nasional untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mempercepat eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030.
Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengendalian TBC. Peningkatan deteksi dini, akses pengobatan yang lebih luas, dan kebijakan yang mendukung lingkungan bebas rokok merupakan strategi kunci dalam upaya ini. [ipl/ted]






