Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo, memberikan penjelasan ilmiah terkait berkurangnya aktivitas semburan lumpur Lapindo.
Amien menyatakan bahwa berkurangnya semburan tersebut disebabkan oleh berkurangnya tekanan gas alam yang selama ini menjadi tenaga pendorong utama.
“Tenaga yang mengangkat air dan lumpur ke atas adalah gas alam yang berada di kedalaman sekitar 3 kilometer,” ujar Amien kepada beritajatim.com, Jumat (21/3/202).
Ia menerangkan, jika tekanan gas mengecil atau sumber gasnya habis, maka tidak akan mampu mengangkat air dan lumpur ke permukaan bumi. “Sehingga, semburan lumpur akan sangat kecil atau mati,” terangnya.
Amien menggunakan contoh semburan lumpur Gununganyar sebagai analogi. Semburan lumpur di Gununganyar, yang masih aktif namun dengan volume kecil, dulunya merupakan kawasan lapangan minyak Kutianyar milik Belanda.
Lapangan minyak tersebut ditambang sejak tahun 1888 dan ditinggalkan pada tahun 1937. Hal ini menunjukkan bahwa semburan lumpur dapat berkurang bahkan berhenti seiring waktu akibat berkurangnya sumber gas.
Amien juga menekankan perbedaan kekuatan semburan di awal kejadian Lumpur Lapindo. “Pada awal-awal kejadian, tekanan semburan lumpur Lapindo sangat kuat karena volume gasnya masih besar,” tambahnya.
Sejarah semburan lumpur Lapindo sendiri dimulai pada 29 Mei 2006 pukul 05.30 WIB, saat PT Lapindo Brantas melakukan pengeboran di sumur Banjar Panji-1. Semburan tersebut terjadi hanya 150 meter dari permukiman, dan warga mulai mencium bau gas yang menyengat.
Bencana ini mengakibatkan ribuan rumah, sekolah, rumah sakit, pabrik, dan jalan tol terkubur, yang berimbas pada terhentinya aktivitas ekonomi di daerah tersebut. Setelah 19 tahun berlalu, sekitar 25 ribu orang dari 8 desa di tiga kecamatan terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat dampak semburan ini.
Semburan lumpur yang dikenal sebagai bencana nonalam ini terjadi di Dusun Balongnongo, Desa Renokenongo, dan Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Lumpur panas yang terus meluap sulit untuk dikendalikan, bahkan menggenangi jalan tol Surabaya-Gempol hingga harus ditutup.
Pernyataan Amien Widodo ini paling tidak memberikan perspektif ilmiah terkait fenomena semburan lumpur Lapindo. Penjelasan mengenai peran gas alam dan contoh kasus Gununganyar diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif bagi publik. [ipl/but]






