Lamongan (beritajatim.com) – Persela Lamongan bakal menghadapi tantangan berat di Liga 2 musim depan setelah dijatuhi sanksi larangan menghadirkan suporter dalam laga kandang. Keputusan ini tak hanya berdampak pada atmosfer pertandingan, tetapi juga memberikan efek signifikan terhadap kondisi moral pemain dan finansial klub.
Keberadaan suporter, yang selama ini menjadi pemain ke-12 bagi Laskar Joko Tingkir, dipastikan absen selama satu musim penuh di Stadion Surajaya. Atmosfer yang biasanya membakar semangat pemain tidak akan terasa.
Situasi ini berpotensi mengurangi semangat juang para pemain di lapangan, yang terbiasa mendapatkan dorongan moral dari tribun. Tanpa kehadiran suporter, Persela harus mencari cara lain untuk menjaga mentalitas tim agar tetap kompetitif di setiap laga kandang.
“Tanpa suporter selama satu musim, harapan saya Persela tetap kompetitif. Tetap bisa bersaing,” kata Manajer Persela, Fariz Julinar Maurisal, Jumat (21/3/2025).
Selain dari segi moral pemain, dampak finansial juga menjadi pukulan telak bagi Persela. Tanpa penjualan tiket dari laga kandang, Persela diperkirakan kehilangan pemasukan signifikan yang biasanya digunakan untuk operasional tim, termasuk pembayaran gaji pemain dan staf.
Dengan kondisi ini, manajemen harus mencari solusi alternatif, seperti peningkatan sponsor atau strategi pemasaran lain, guna menjaga stabilitas keuangan klub sepanjang musim.
Meskipun situasi ini menjadi tantangan besar, Persela tetap bertekad untuk tampil maksimal di Liga 2 musim depan.
“(Tanpa penonton) sedikit banyak pasti mengurangi pemasukan tim. Tapi situasi ini harus kita hadapi bersama, mencari solusi terbaik. Harapan saya tentunya Persela tetap bisa bersaing,” tuturnya.
Bagaimana Persela Lamongan akan mengatasi situasi ini masih menjadi pertanyaan besar. Namun, yang pasti, sanksi ini akan menjadi tantangan serius bagi klub dalam perjuangan mereka di Liga 2 musim depan. [fak/beq]






