Ponorogo (beritajatim.com) – Di sebuah rumah sederhana di Desa Serangan, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, tangan Winaryo (48) bergerak cekatan. Ia meremas lembaran daun cincau hijau tua, mencampurnya dengan air, lalu menyaringnya hingga tersisa sari kental yang nantinya akan membentuk cincau segar. Aroma khas daun cincau terasa dari rumahnya, yang menandakan proses produksi sedang berjalan.
Di bulan Ramadhan ini, rutinitas Winaryo semakin sibuk. Pesanan cincaunya melonjak drastis hingga 10 kali lipat dibanding hari biasa. Jika biasanya Ia hanya memproduksi 10 hingga 50 kemasan per hari, kini bisa mencapai ratusan kemasan.
“Biasanya harian paling banyak ya 50 kemasan, kini di bulan Ramadhan naik drastis bisa sampai 500 kemasan per hari,” kata Winaryo, ditulis Minggu (16/3/2025).
Cincau buatannya terkenal karena prosesnya yang alami tanpa bahan pengawet. Daun cincau segar dipilih dengan cermat, dicuci bersih, lalu direndam dalam air panas selama beberapa menit. Setelah itu, daun diremas hingga sari patinya keluar, lalu disaring hingga menghasilkan cairan hijau pekat yang nantinya akan mengental menjadi cincau kenyal.
“Proses pembuatannya masih alami tanpa bahan pengawet,” katanya.
Sebelum merintis usaha ini, Winaryo hanyalah seorang pekerja serabutan. Pandemi Covid-19 sempat membuatnya kehilangan pekerjaan, hingga keisengannya pada suatu hari Ia mencoba membuat cincau sendiri. Dalam proses pembuatan, dirinya tidak langsung berhasil, beberapa kali usaha pembuatannya menemui gegagalan. Namun, Ia tidak putus asa, hingga akhirnya menemukan racikan cara yang pas.
“Beberapa kali gagal, tapi saya terus mencoba sampai akhirnya menemukan cara yang pas,” kenangnya.
Kini, usaha cincaunya semakin berkembang. Bahkan, Ia mulai menanam sendiri tanaman cincau untuk mencukupi kebutuhan bahan baku. Namun, di bulan Ramadhan, permintaan yang tinggi membuatnya harus mendatangkan daun cincau dari luar kota seperti Madiun, Ngawi, Magetan, dan Trenggalek. Pun, pesanannya pun juga tidak hanya dari Ponorogo saja, namun ada dari Madiun, Solo hingga Jombang.
“Ramadhan ini pesanan bukan dari Ponorogo saja, ada yang dari Madiun, Solo hingga Jombang,” katanya.
Bagi Winaryo, Ramadhan bukan hanya bulan penuh berkah, tetapi juga momen yang membuktikan bahwa ketekunan dan keuletan bisa mengubah nasib. Dari sekadar iseng, kini cincau buatannya menjadi favorit banyak orang, membawa manisnya rezeki di bulan suci. [end/but]






