Malang (beritajatim.com) – Menjelang Lebaran, kebiasaan belanja berlebihan semakin marak terjadi. Salah satu pemicunya adalah Fear of Missing Out (FOMO), seseorang merasa harus membeli sesuatu agar tidak ketinggalan tren.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Uun Zulfiana, mengungkapkan bahwa FOMO dapat mendorong seseorang untuk berbelanja secara impulsif. Terutama akibat pengaruh media sosial.
Menurut Uun, faktor psikologis lain yang memperkuat perilaku konsumtif ini adalah kepuasan emosional dan rendahnya self control. Ia menjelaskan bahwa paparan iklan yang masif di berbagai platform digital semakin memperparah keinginan belanja.
“Lingkungan sosial juga memiliki peran besar dalam mendorong seseorang membeli sesuatu yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan. Ketika seseorang memiliki kontrol diri yang rendah, ia akan sangat mudah dipengaruhi oleh faktor eksternal, baik dari keluarga maupun teman,” jelas Uun, Kamis (13/3/2025).
Uun menambahkan bahwa kepercayaan diri seseorang berpengaruh terhadap pola belanjanya. Orang dengan kepercayaan diri yang rendah cenderung lebih mudah mengikuti tren sosial agar merasa diterima.
Hal ini membuat mereka membeli barang yang mungkin tidak dibutuhkan, hanya karena takut tertinggal dari orang lain. Untuk mengatasi hal tersebut, Uun menyarankan agar seseorang meningkatkan kesadaran terhadap kebiasaan belanja mereka.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat komitmen kuat dalam diri untuk lebih bijak dalam mengatur keuangan. Selain itu, ia juga menyarankan agar masyarakat membuat perencanaan anggaran belanja dengan mencatat kebutuhan yang benar-benar diperlukan.
Ia menekankan pentingnya menghindari kebiasaan menghabiskan waktu dengan melihat berbagai iklan atau siaran langsung di media sosial. Hal itu juga dapat mendorong keinginan belanja.
“Jangan malah rebahan sambil melihat live TikTok, Shopee, dan lainnya, karena ini justru akan meningkatkan keinginan untuk membeli barang yang tidak perlu,” ujarnya.
Selain itu, Uun menegaskan bahwa kontrol diri dan pengelolaan emosi yang baik sangat penting agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh dorongan sesaat. Ia juga menyarankan untuk membangun hubungan sosial yang positif sebagai bentuk dukungan dalam mengendalikan perilaku konsumtif.
Dengan menerapkan kesadaran diri dan kontrol belanja yang baik, masyarakat dapat lebih bijak dalam menghadapi tren konsumtif jelang Lebaran. “Jangan sampai kantong jebol hanya karena ikut-ikutan tren,” kata dosen UMM ini, menutup. (dan/ian)






