Pacitan (beritajatim.com) – Lazimnya, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) menjadi tempat belajar mengaji bagi anak-anak. Namun, di Dusun Krajan, Desa Sukorejo, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan, ada TPA yang justru diperuntukkan bagi para lansia. TPA Ungkuk, yang berdiri sejak 2022, menjadi ruang bagi mereka yang ingin belajar membaca Al-Qur’an meski usia tak lagi muda.
Setiap Senin dan Kamis malam, selepas shalat Isya dan Tarawih berjamaah, puluhan santri sepuh datang ke Mushola Al-Ikhlas, salah satu tempat belajar mereka. Usia mereka beragam, mulai dari 50 tahun hingga ada yang berusia lebih dari 80 tahun. Mereka datang dengan semangat tinggi, berbekal keinginan untuk menebus waktu yang telah berlalu tanpa kesempatan belajar Al-Qur’an.
Gus Toha, atau Muhammad Toha (31), adalah sosok di balik berdirinya TPA Ungkuk. Ia memulai inisiatif ini ketika menyadari bahwa banyak orang tua dari santri anak-anaknya tidak bisa mengaji. “Dulu saya melihat anak-anak ngaji di TPA, tapi ketika di rumah, mereka tidak bisa belajar lebih lanjut karena orang tua mereka juga tidak bisa mengaji,” ujar Toha, ditulis Rabu (12/3/2025)
Dari kegelisahan itu, ia mulai mengajar enam orang santri sepuh di Desa Sumberejo. Tak disangka, banyak yang tertarik untuk ikut serta, sehingga kini TPA Ungkuk berkembang dengan lebih dari 130 santri yang tersebar di 10 mushola dan masjid di Desa Sumberejo dan Desa Sukorejo.
Belajar di usia senja tentu tidak mudah. Bambang Daryono (66), warga Desa Sumberejo, adalah salah satu santri yang sudah sedikit bisa membaca Al-Qur’an, tetapi ingin lebih mendalami ilmunya. “Alhamdulillah, saya sudah tamat Iqro dan kini melanjutkan ke Al-Qur’an. Dulu metode belajarnya berbeda, jadi saya ingin lebih memahami lagi,” katanya.
Senada dengan Bambang, Dewi Retno Palupi juga memiliki kisah serupa. Di usianya yang sudah lanjut, ia kembali menekuni pelajaran mengaji setelah sekian lama tertunda karena kesibukan. “Dulu pernah belajar, tapi belum begitu lancar. Karena kesibukan akhirnya terbengkalai, dan sekarang baru mulai belajar lagi,” ungkapnya.
Di balik keberhasilan TPA Ungkuk dalam membimbing para santri sepuh, ada perjuangan besar dari para pengajarnya. Sebanyak 13 orang guru secara sukarela mengajar dengan penuh kesabaran. Tantangan utama yang mereka hadapi adalah daya tangkap santri yang sudah mulai menurun serta kendala fisik seperti gigi yang ompong, yang membuat pelafalan huruf hijaiyah menjadi lebih sulit.
“Kami harus ekstra sabar karena mengajar lansia itu berbeda dengan anak-anak. Mereka lebih lambat dalam memahami, dan ada juga yang merasa minder karena usianya jauh lebih tua dari kami sebagai guru,” kata Gus Toha.
Meski demikian, semangat para santri tetap tinggi. Mereka ingin bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar sebelum ajal menjemput. Bagi mereka, TPA Ungkuk bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang kebersamaan, tempat berbagi cerita, dan mencari ketenangan di usia senja.
Di tengah kesibukan mencari nafkah di siang hari, baik santri maupun pengajar tetap meluangkan waktu di malam hari untuk belajar dan mengajar. [tri/beq]






