Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengingatkan potensi cuaca ekstrem melanda wilayah Jawa Timur, mulai hujan lebat, hujan es, angin puting beliung pada rentang tanggal 7-16 Maret 2025.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Jawa Timur disebabkan oleh sejumlah faktor, diantaranya karena situasi akhir musim hujan dan peralihan menuju musim kemarau.
Selain itu, kondisi dinamika atmosfer dengan intensitas pertemuan angin dapat menjadi faktor pemicu timbulnya bencana hidrometerologi.
“Selain peralihan musim, kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya daerah pertemuan angin (konvergensi) di perairan utara Jawa Timur, serta gangguan atmosfer Madden-Jullian Oscillation (MJO) secara spasial yang diprakirakan akan melintasi wilayah Jawa Timur,” kata Taufiq Hermawan ditulis Senin (10/3).
Taufiq melanjutkan, imbas fenomena tersebut juga mengakibatkan peningkatan pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah Jawa Timur.
“Selain itu kondisi atmosfer yang masih labil serta faktor konvektivitas lokal yang cukup kuat juga mendukung pertumbuhan awan cumulonimbus yang cukup intens,” imbuh Taufiq.
Dari situ, BMKG Juanda pun mengimbau agar masyarakat senantiasa waspada. Terutama apabila terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang.
Adapun wilayah yang diperkirakan terdampak cuaca ekstrem ini antara lain Kota Surabaya, Kota Batu, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Bojonegoro.
Lalu Kabupaten Jombang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Sampang, serta Kabupaten Sidoarjo.
Selanjutnya Kabupaten Tuban, Kabupaten Blitar, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Madiun, Kabupaten dan kota Malang, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, dan Kabupaten Tulungagung.
Khusus untuk wilayah dengan topografi curam atau bergunung serta tebing, BMKG juga mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap dampak yang ditimbulkan cuaca ekstrem ini.
Sebab bisa memicu sejumlah bencana seperti banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, hingga berkurangnya jarak pandang.
“Masyarakat juga diimbau selalu memantau kondisi cuaca terkini melalui citra radar cuaca WOFI,” pungkas Taufiq. (rma/ted)






