Surabaya (beritajatim.com) – Sampoerna Academy kembali menggelar acara tahunan STEAM Expo 2025 yang kali ini fokus teknologi hijau dan keberlanjutan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Expo kali ini berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang memberikan nuansa baru dalam upaya mengedukasi siswa tentang inovasi berkelanjutan.
Principal Sampoerna Academy Surabaya Grand Pakuwon Campus, Anushia Senthevadivel menjelaskan bahwa setiap tahun, siswa ditantang untuk berinovasi dengan memanfaatkan pembelajaran STEAM mereka. Proyek-proyek tersebut kemudian dinilai oleh para juri dan dipamerkan kepada publik selama acara STEAM Expo yang diselenggarakan serentak di seluruh kampus.
“Melalui karya inovatif yang berfokus pada teknologi hijau dan berkelanjutan, para siswa menunjukkan hasil pembelajaran mereka yang luar biasa,” ujar Anushia, Jumat (7/3/2025).
Salah satu proyek yang menarik perhatian adalah “3-in-1 Tree” yang diciptakan oleh siswa Grade 6B, Aireen Angelie, Alysia Kanaya, Nadifah Azizah, dan Amadeus Isaac. Proyek ini merupakan jawaban atas peningkatan polusi udara yang semakin meresahkan. “Kami ingin menciptakan solusi yang lebih efisien daripada pohon biasa, yang memerlukan waktu lama untuk tumbuh,” kata Aireen Angeli.
Nadifah Azizah menjelaskan proyek ini menggabungkan pohon artifisial, lampu jalanan, dan tempat duduk untuk berteduh, dengan memanfaatkan dua sumber energi terbarukan: mikroalga dan sinar matahari.
Menurut para siswa tersebut, mikroalga memiliki kemampuan untuk fotosintesis seperti pohon biasa, bahkan bisa memproduksi setengah oksigen yang ada di dunia, sehingga menjadikannya 10-50 kali lebih efisien daripada pohon.
“Dengan menggunakan mikroalga, kita tidak hanya menghemat ruang, tetapi juga waktu, karena tidak perlu menunggu pohon tumbuh besar,” ujar Nadifah.
Proyek ini juga mengandalkan panel surya untuk mengumpulkan energi matahari yang digunakan untuk menyalakan lampu LED saat malam hari, serta sistem LDR yang membuat lampu menyala otomatis saat sinar matahari tidak ada.
Keberlanjutan proyek ini tergantung pada teknologi yang digunakan, di mana penggunaan mikroalga dalam air bisa berisiko mengalami ledakan populasi alga atau algae bloom. “Kami mengantisipasi hal tersebut dengan menambahkan aerator untuk mencegahnya,” tambah Aireen.[asg/kun]






