Gresik (beritajatim.com) – Banjir yang melanda wilayah Kabupaten Gresik tidak hanya terjadi akibat meluapnya Kali Lamong. Hal serupa juga dialami di wilayah Kecamatan Driyorejo akibat meluapnya Kali Surabaya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Ada 4 desa yang sampai saat ini masih tergenang setinggi 20 hingga 30 centimeter.
Banjir Kali Surabaya ini juga menyebabkan 1.200 rumah warga tergenang di Desa Driyorejo. Selain banjir masuk ke rumah warga. Jalan lingkungan di desa ini turut tergenang sejauh 4.000 meter.
Warga pun juga mendirikan dapur umum secara mandiri. Bahkan, ada 88 warga terpaksa mengungsi ke Masjid Al-Muttaqin karena rumahnya terendam air cukup tinggi.
Tidak hanya Desa Driyorejo, Desa Cangkir pun mengalami hal yang sama. Sebanyak 60 rumah warga tergenang, dan jalan desa digenangi banjir sepanjang 600 meter.
Kepala BPBD Gresik Sukardi mengatakan, warga Desa Cangkir juga mendirikan dapur umum secara gotong-royong mendistribusikan makanan secara sukarela akibat banjir ini.
“Dua desa lainnya yang sampai saat ini banjir belum surut juga terjadi di Desa Bambe. Data yang masuk ada 54 rumah warga tergenang. Ketinggian air sampai 80 centimeter,” katanya, Kamis (27/2/2025).
Masih menurut Sukardi, warga desa tersebut juga mengungsi ke TPQ dan Dusun Sarirejo karena tempatnya lebih tinggi. ‘Sebanyak 25 orang terpaksa mengungsi ke TPQ dan 60 warga balai dusun,” ungkapnya.
Desa lainnya lanjut dia, yakni Krikilan banjir akibat meluapnya Kali Surabaya tidak sampai masuk ke rumah warga. Termasuk fasilitas umum (Fasum). “Upaya yang kami lakukan terkait banjir ini. Berkordinasi dengan BBWS Bengawan Solo, BPBD jatim dan relawan desa. Serta muspika dan pemdes terdampak banjir,” paparnya.
Sukardi menambahkan, pihaknya juga telah menerjunkan personil, peralatan, dan logistik ke lokasi banjir. “Kami terus memonitoring perkembangan banjir Kali Surabaya dan mengapresiasi warga tanpa menunggu dapur umum secara sukarela,” imbuhnya. [dny/kun]






