Surabaya (beritajatim.com) Toko Ladang, sebuah marketplace dari Surabaya yang berfokus pada pemberdayaan UMKM di Jawa Timur, menggelar acara Gebyar Jatim Bejo di Leedon. Acara ini menandai peluncuran kerjasama strategis antara Toko Ladang dan Jatim Bejo, marketplace daring milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Nur Hidayati, Direktur Utama Toko Ladang, mengungkapkan bahwa kerjasama ini merupakan langkah penting dalam memperluas jangkauan pasar bagi ribuan UMKM yang telah bergabung dengan Toko Ladang.
“Toko Ladang sejak 2019 konsen di e-commerce, dengan sebaran UMKM yang cukup luas di Jawa Timur. Karena sudah ada sekitar 15 ribu UMKM yang tersebar di kabupaten kota, kami memutuskan untuk bekerjasama dengan Jatim Bejo,” kata Nur Hidayati.
Arif Endro Utomo S.T., M.T., Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa Provinsi Jawa Timur, menjelaskan bahwa kerjasama ini bertujuan untuk memperluas jangkauan layanan dan membuka peluang usaha bagi UMKM mikro, khususnya yang berada di Jawa Timur.
“Kerjasama ini memperluas jangkauan layanan kami dan membuka peluang bisnis yang lebih luas bagi UMKM mikro. Awalnya, mereka mungkin hanya melayani sekolah, tetapi dengan bergabung di Jatim Bejo, mereka dapat melayani SKPD-SKPD di bawah naungan Provinsi Jawa Timur,” ujar Arif.
Toko Ladang menyediakan berbagai macam produk dan layanan, mulai dari kebutuhan pokok, ATK, konsumsi, sarana prasarana kantor, hingga layanan jasa seperti service dan maintenance.
“Di Toko Ladang, selain pelayanan barang-barang, kami juga ada layanan jasa. Dengan terintegrasinya kami dengan Jatim Bejo, merchant-merchant kami dari seluruh Provinsi Jawa Timur bisa tergabung juga di toko daringnya Jatim Bejo,” jelas Nur Hidayati.
Toko Ladang, yang memiliki sekitar 15 ribu UMKM di Jawa Timur dan 80 ribu UMKM di seluruh Indonesia, juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah.
“Alhamdulillah, Toko Ladang mendapat nominasi setor wajib pajak terbanyak di Kota Surabaya, sejumlah sekitar 900 miliar rupiah. Kami berharap sinergi dengan Jatim Bejo ini bisa mendatangkan manfaat terkait perkembangan UMKM di Jawa Timur,” kata Nur Hidayati.
Toko Ladang memberikan kemudahan bagi UMKM untuk bergabung, baik individu maupun perorangan, asalkan memiliki identitas yang jelas.
“Syarat khusus di UMKM Toko Ladang itu bisa individu atau perorangan, yang penting punya identitas. Kalau di Jatim Bejo, mungkin ada beberapa klausul tertentu, seperti NIB sebagai legalitas usaha,” jelas Nur Hidayati.
Penjualan terbesar di Toko Ladang adalah produk ATK dan kebutuhan kantor, yang mencapai sekitar 60% dari total penjualan. Hal ini sesuai dengan tujuan awal Jatim Bejo yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan operasional.
“Pasar daring itu kan diciptakan untuk kebutuhan operasional, sehingga kebutuhan terbanyak rata-rata ya memang untuk kebutuhan office, baru setelah itu konsumsi,” kata Nur Hidayati.
Toko Ladang juga memberikan edukasi kepada UMKM melalui dua program, yaitu “Toko Ladang Menyapa” dan “Salam Sapa Toko Ladang.”
“Toko Ladang Menyapa adalah edukasi bagi user yang belum familiar dengan proses transaksi di e-commerce kami. Salam Sapa Toko Ladang adalah program edukasi bagi UMKM terkait legalitas usaha dan kajian bisnis,” jelas Nur Hidayati.
Dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur
Arif Endro Utomo dari Biro Pengadaan Barang dan Jasa Provinsi Jawa Timur, menekankan pentingnya Jatim Bejo sebagai mekanisme pengadaan yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
“Yang paling penting yang paling dibutuhkan oleh para pembeli dalam program Jatim Bejo yaitu peralatan elektronik, jasa kreatif, makanan dan minuman. Artinya, ini adalah peluang besar bagi usaha warga di wilayah Jawa Timur,” kata Arif.
Arif juga menjelaskan bahwa Jatim Bejo terbuka untuk kerjasama dengan platform e-commerce lainnya.
“Kami mengundang e-commerce lain untuk bergabung. Semakin banyak pilihan, semakin banyak barang yang tersedia, harapannya seperti itu,” ujar Arif.
Transaksi di Jatim Bejo pada tahun lalu mencapai 633 miliar rupiah. Arif berharap transaksi tahun ini dapat meningkat, meskipun ada efisiensi anggaran.
“Mudah-mudahan nanti di tahun ini bisa meningkat, meskipun di tengah efisiensi. Efisiensi itu tidak mempengaruhi kinerja sebenarnya, hanya bagaimana kita bergerak lebih efektif dan efisien menggunakan anggaran yang ada,” jelas Arif.
Arif juga mengungkapkan bahwa Jatim Bejo berpotensi untuk mengakomodasi kebutuhan pengadaan di sektor konstruksi, yang selama ini belum banyak terlayani.
“Tahun lalu, 60% lebih belanja dilakukan di Jatim Bejo. Tahun ini, mudah-mudahan bisa lebih, karena beberapa OPD seperti konstruksi sudah mulai diakomodir,” kata Arif.[rea]






