Kekuasaan berganti di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Muhammad Fawait dan Djoko Susanto resmi dilantik menjadi bupati dan wakil bupati di Jakarta, 20 Februari 2025. Mereka akan memerintah hingga lima tahun ke depan.
Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan duet tersebut. Namun para pelaku wisata di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berharap program kawasan wisata terintegrasi yang sudah diperkenalkan ke publik pada 12 Desember 2023 berlanjut.
Program kawasan wisata terintegrasi adalah program yang digagas bersama oleh pelaku wisata yang kemudian diluncurkan pada era pemerimtahan Bupati Hendy Siswanto. Sejumlah perwakilan pelaku wisata sempat beraudiensi dengan Hendy di Pendapa Wahyawibawagraha untuk memgawali program tersebut, 18 September 2023.
Mereka sepakat membangun satu sistem dengan difasilitasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember yang menghidupkan ekosistem pariwisata dengan berbasis pemberdayaan masyarakat. Ekosistem ini juga melibatkan organisasi-organisasi kepariwisataan seperti Himpunan Pramuwisata Indonesia, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, dan organisasi sejenis lainnya.
“Ekosistem yang terbangun dengan baik akan mempermudah pendampingan dan promosi pemasaran pariwisata. Sinergi dan kolaborasi pelaku pariwisata dimaksimalkan demi percepatan pengembangan pariwisata,” kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jember Hasti Utami, Rabu (19/2/2024).
Hasti menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat alih-alih mengandalkan investasi besar dari swasta. “Kekuatan masyarakat inilah yang akan memajukan pariwisata kita lebih cepat lagi,” kata alumnus Universitas Jember ini.
Didik Irawan, pelaku wisata Pantai Bandealit, menyebut pencanangan kawasan wisata terintegrasi itu langkah positif. “Inisiatif ini membuka peluang untuk meningkatkan daya tarik wisata, meningkatkan infrastruktur, dan menciptakan pengalaman yang lebih terorganisir bagi wisatawan,” katanya.
Menurut Didik, kawasan wisata terintegrasi bisa menyatukan destinasi wisata, akomodasi, dan fasilitas lainnya dalam satu paket mudah diakses. “Ini juga bisa memperkuat branding Jember sebagai destinasi wisata potensial,” katanya.
***
Konsep kawasan pariwisata terintegrasi di Jember ini pernah dipaparkan Hasti Utami di hadapan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dalam acara Destination Leadership Project Plan di Bogor, Jawa Barat, 3 Agustus 2023.
Hasti menegaskan keinginan pelaku pariwisata di Jember untuk merumuskan langkah-langkah strategis pengembangan pariwisata yang efektif dan efisien. Mereka ingin mengolaborasikan dan mengorkestrasi seluruh komponen pariwisata dengan mengintegrasikan segala potensi pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Kami ingin mewujudkan ekosistem pariwisata yang luas, berkelanjutan dan berkarakter Jember dengan mengoptimalkan peran serta masyarakat dalam pengembangannya. Termasuk memperbaiki tata kelola pariwisata melalui Destination Management Organization (DMO) terutama badan usaha milik desa,” kata penggagas Komunitas Tamasya Bus Kota ini.
Ada enam strategi pengembangan kawasan wisata terintegrasi Jember ini. “Pertama, membentuk tim yang menangani program percepatan pengembangan pariwisata secara intensif dan profesional,” kata Hasti.
Berikutnya adalah mengembangkan tiga kawasan terintegrasi pariwisata Jember berdasarkan kearifan lokal dan karakteristik kewilayahan. Tiga kawasan wisata terintegrasi di Kabupaten Jember itu adalah Kawasan Wisata Budaya Terintegrasi Argopuro-Raung, Kawasan Wisata Terintegrasi Segoro Kidul, dan Kawasan Wisata Terintegrasi Perkotaan.
Setiap kawasan memiliki program masing-masing. Kawasan Wisata Budaya Terintegrasi Argopuro-Raung memiliki proyek percontohan Jelajah Purba pada 10 Desember 2023 yang digelar bersama HPI Jember dan kelompok-kelompok sadar wisata bersama Disparbud Jember dan asosiasi-asosiasi pariwisata.
Kawasan Wisata Terintegrasi Segoro Kidul diperkenalkan di Teluk Love-Payangan. “Sementara Kawasan Wisata Terintegrasi Perkotaan akan menjadikan kawasan perkotaan sebagai bagian dari ekonomi kreatif di Jember,” kata Hasti.
***
Pembangunan infrastruktur jalan oleh Pemerintah Kabupaten Jember, salah satunya pengaspalan jalan di kawasan Bandealit, mendukung penguatan kawasan wisata terintegrasi yang diupayakan para pelaku wisata lokal.
Bupati Hendy Siswanto pernah mengungkapkan rencananya untuk menghubungkan antarkawasan wisata, terutama Bandealit, dengan menjadikan alun-alun Jember Nusantara sebagai titik nol.
“Kami melihat Bandealit ini sangat indah, dan untuk menuju pantai Bandealit harus melintasi Taman Nasional Meru Betiri. Ini membuat daya tarik wisata. Kami akan tawarkan kepada wisatawan nasional maupun luar negeri,” katanya saat bertemu masyarakat Bandealit, Sabtu (16/11/2024).
Bandealit terletak di Jember bagian selatan, berjarak kurang lebih 64 kilometer dari pusat kota dan dikelilingi hutan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Pantai ini biasa digunakan untuk memancing ikan dan memiliki potensi wisata yang indah.
Alih-alih memilih membuka pintu untuk investor besar swasta, Pemkab Jember justru memberikan kesempatan kepada warga lokal untuk mengelolanya. “Wisata harus dikelola orang Bandealit. Kami akan memberikan pelatihan dan edukasi tentang keamanan dan cara melayani tamu. Itu tanggung jawab kami untuk mendampingi,” kata Hendy saat itu.
Angkutan wisata pun disiapkan untuk menghubungkan antarkawasan, termasuk Bandealit. Ini merupakan pengembangan sejumlah program transportasi wisata Jember, antara lain Angkutan Wisata Jember, Sultan City Tour, dan angkutan wisata religi.
Aksesibilitas adalah faktor utama dalam pengembangan destinasi. Harapannya Bandealit bisa berkembang lebih cepat. Namun aksesibilitas tidak bisa berdiri sendiri, karena harus ada kolaborasi pentaheliks dan komitmen pemerintah. “Khusus kawasan Taman Nasional Meru Betiri, ada banyak faktor yang harus diperhatikan terkait pengembangan wisata berkelanjutannya,” kata Hasti.
***
Para pegiat pariwisata lokal kini sedang berupaya menyusun narasi atau story telling yang menjadi kekuatan pariwisata Jember. “Kami juga tengah menyusun travel pattern dan pemaketan wisata, serta pemasaran kreatif dan tepat sasaran,” kata Hasti.
Suparto, pelaku pariwisata Pantai Payangan, berharap Pemerintah Kabupaten Jember terus memfasilitasi semua ikhtiar pemberdayaan pariwisata oleh masyarakat setempat. “Kawasan wisata terintegrasi yang dicanangkan pada 2023 sangat bagus. Kami berharap bupati terpilih, Gus Fawait, bisa lebih mengembangkannya lagi,” katanya.
Didik Irawan ingin pemerintah daerah berkolaborasi lebih erat dengan pengusaha dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem wisata yang berkelanjutan di Jember. “Kami berharap kawasan wisata terintegrasi bisa lebih dikembangkan untuk meningkatkan daya tarik wisata daerah dan menperkuat ekonomi lokal,” katanya.
Ada beberapa aspek penting yang bisa dipertimbangkan Pemkab Jember. “Pemanfaatan potensi alam dan budaya, peningkatan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat lokal, pengembangan wisata berkelanjutan, pemasaran dan promosi, dan fasilitas wisata yang menarik,” kata Didik.
Cita-cita Hasti, Didik, Suparto, dan pelaku wisata lokal sederhana: memberikan sumbangsih bagi Kabupaten Jember melalui sektor pariwisata tanpa membebani daerah. Mereka tidak menuntut banyak, selain peran pemerintah untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha wisata lokal.
Industri pariwisata, menurut Didik, bisa dikembangkan tanpa merusak alam dan tradisi masyarakat. “Dengan pendekatan yang tepat, kawasan wisata terintegrasi ini bisa menjadi sumber pendapatan signifikan bagi daerah dan menciptakan lapangan kerja baru bagi warga,” katanya.
“Kami ingin kelak Jember menjadi destinasi wisata nasional, menjadi destinasi wisata religi dan edukasi pesantren internasional, dan menularkan program pengembangan pariwisata dengan pemberdayaan angkutan umum agar bisa diterapkan di daerah lain,” kata Hasti. [wir]






