Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa S1 Teknik Elektro Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya, Adhitiya Dwijaya Ariyanto, mengembangkan inovasi alat deteksi kualitas minyak goreng sawit yang berbasis sistem fuzzy.
Penelitian ini bertujuan untuk membantu ibu rumah tangga mengetahui kualitas minyak goreng yang mereka gunakan, yang biasanya dapat berulang kali dipakai hingga 10 kali.
Menurut Adhitiya, latar belakang penelitian ini berawal dari rasa penasaran mengenai apakah kualitas minyak goreng bisa diukur. Sebab, sering kali minyak goreng digunakan berulang kali tanpa memperhatikan potensi dampak buruk bagi kesehatan, seperti kanker.
“Tujuan saya adalah untuk memberikan kesadaran kepada ibu rumah tangga agar lebih memperhatikan kualitas minyak yang digunakan,” ujarnya, Jumat (14/2/2025).
Alat yang dikembangkan ini bekerja dengan cara mengambil sampel minyak goreng dan menganalisisnya berdasarkan tiga faktor, yakni warna, kejernihan, dan bau. Data hasil pengujian kemudian dikirim ke laptop atau PC untuk diklasifikasikan, apakah minyak tersebut masih layak digunakan atau tidak.
Alat ini dapat memberikan informasi secara cepat dan akurat mengenai kualitas minyak goreng berdasarkan parameter tersebut. “Kita mengambil sampel, lalu dimasukkan alat untuk dideteksi warna, kejernihan, dan baunya,” ungkap Adhitiya.
Proses pembuatan alat ini memakan waktu sekitar 6 bulan. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Adhitiya adalah dalam pengambilan sampel. “Terkadang untuk satu kali uji bahan makanan, diperlukan hingga empat sampel minyak goreng,” jelasnya.
Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan, Adhitiya menyebut bahwa alat yang dikembangkan dapat mendeteksi kualitas minyak goreng berdasarkan warna, kejernihan, dan bau. Namun, bahan makanan yang digunakan untuk menggoreng turut memengaruhi hasil warna minyak goreng.
Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kualitas minyak goreng yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. [ipl/ian]






