Gresik (beritajatim.com) – Petani di wilayah Kabupaten Gresik masih terkendala menyerap pupuk bersubsidi. Salah satu yang menjadi penyebabnya adalah permasalahan identitas kependudukan.
Seperti M.Ilyas (55) petani asal Kecamatan Dukun. Dirinya sudah mengajukan pupuk subsidi namun belum juga menerima. Padahal pengajuannya pun butuh kesabaran yang ekstra.
“Saya sudah mengajukan pupuk subsidi melalui online. Butuh kesabaran, dan banyak petani lain juga
mengakses aplikasi yang sama,” ujarnya, Selasa (28/1/2025).
Selain permasalahan soal server. Hal lain adalah identitas KTP. Kendati sudah terdaftar pengajuannya belum tentu mulus. “Beberapa kali mencoba mengunggah belum terupload juga. Saya coba terus mudah-mudahan berhasil,” kata M.Ilyas.
Ia menjelaskan saat ini telah masuk musim tanam (MT) 1. Beberapa petani sudah mendapatkan pupuk subsidi. Tapi sebagian yang lain belum menerima. “Area sawah saya seluas 1 hektar. Kebutuhan setiap musim tanam sekitar 2 kuintal pupuk urea dan 2,5 kuintal NPK. Namun pupuk subsidi yang diterima belum memenuhi seluruh kebutuhan,” paparnya.
Masih menurut M.Ilyas, dari segi harga terpaut jauh. Pupuk subsidi berkisar Rp 150 ribu. Sedangkan pupuk non subsidi berkisar Rp 340 ribu sampai Rp 450 ribu. “Yang menjadi masalah hama tikus. Setengah lahan saya di musim tanam ketiga gagal panen,” urainya.
Sementara itu, berdasarkan data Dinas Pertanian (Distan) Gresik, alokasi pupuk subsidi di Gresik tahun 2025 sebesar 45.810 ton. Rinciannya NPK 19.612 ton dan Urea 26.198 ton. Alokasi tersebut hanya 71 persen dari total kebutuhan yang diusulkan mencapai 64.486 ton.
Tahun 2024 lalu, alokasi pupuk subsidi untuk petani di Kabupaten Gresik sudah menurun dari tahun 2023. Di mana 2024 lalu, alokasi pupuk subsidi sebesar 49.331 ton.
Terkait dengan ini, Kepala Bidang (Kabid) Sarana Prasarana Penyuluhan Distan Gresik Erwanto Budi mengatakan, alokasi yang diberikan tahun 2025 ini memang belum mencukupi dari kebutuhan yang ada. Namun, pihaknya berharap pada musim tanam pertama berjalan ke depan terdapat alokasi tambahan. “Tahun lalu serapan pupuk subsidi memang tidak 100 persen. Tapi melihat alokasi tahun ini memang kurang dari kebutuhan,” tandasnya. [dny/kun]






