Malang (beritajatim.com) – Pertanyaan mengenai apakah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menggantikan peran dosen di masa depan menjadi topik hangat dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Leveraging Artificial Intelligence to Advance Education Quality: Opportunity and Challenges for Lectures and Students”. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Malang (Unisma) bekerja sama dengan Curtin University Australia.
Kolaborasi Unisma dan Curtin University
FGD yang berlangsung di Ruang Seminar KH. Wahab Hasbullah Gedung B Lantai 7 Unisma ini menghadirkan Yuni Yuningsih, PhD, M.Com., CPA (Aust), FHEA, dari Curtin University Australia, sebagai narasumber utama. Turut hadir Dekan FEB Unisma, Afifudin, SE., M.SA., Ak., bersama jajaran pimpinan dan dosen FEB Unisma. Dalam sambutannya, Afifudin menegaskan bahwa pemahaman terhadap teknologi AI sangat penting di era perkembangan teknologi global yang pesat.
AI: Peluang atau Ancaman?
Afifudin menekankan bahwa AI bukanlah ancaman bagi pendidik, melainkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan. “Kita harus memandang AI sebagai mitra yang mampu mempercepat berbagai aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Namun, kita juga harus memastikan penggunaannya sesuai dengan etika akademik,” ujar Afifudin.
Afifudin percaya bahwa AI dapat membantu meningkatkan kualitas lulusan FEB Unisma. Perkembangan teknologi ini diharapkan dapat memotivasi dosen dan mahasiswa untuk terus meningkatkan produktivitas sehingga mampu bersaing di tingkat global.
Peran AI dalam Pendidikan
Sebagai narasumber, Yuni Yuningsih memaparkan sejumlah fakta menarik tentang AI dan dampaknya terhadap dunia kerja serta pendidikan. Ia menjelaskan bahwa AI tidak akan menggantikan peran dosen, melainkan membantu mempercepat tugas-tugas administratif dan memberikan solusi praktis dalam pembelajaran.
“AI tidak akan menggantikan peran dosen, tetapi justru membantu mempercepat tugas-tugas administratif dan memberikan solusi praktis dalam pembelajaran. Meski begitu, peran manusia tetap tak tergantikan, terutama dalam membangun empati dan pemikiran kritis di dunia pendidikan,” jelas Yuni.
FGD oleh FEB Unisma dan Curtin University (Foto: Istimewa)Etika Penggunaan AI
Yuni juga menekankan pentingnya memahami etika penggunaan AI. Teknologi ini harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi. Diskusi ini memicu antusiasme tinggi dari para peserta, yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, untuk memahami bagaimana AI dapat diterapkan dalam proses perkuliahan.
“Diskusi ini membuka wawasan kami tentang potensi AI. Kami jadi tahu bahwa AI bukan hanya alat, tetapi juga peluang besar untuk mengembangkan pendidikan,” ujar salah satu peserta.
FGD ini menjadi bukti komitmen FEB Unisma untuk menghadirkan pendidikan berkualitas di era digital. Dengan menggandeng Curtin University, FEB Unisma berkomitmen membekali dosen dan mahasiswa dengan pengetahuan terbaru seputar teknologi.
Lalu, apakah AI akan menggantikan dosen? AI adalah alat yang mendukung, tetapi dosen tetap menjadi kunci keberhasilan pendidikan. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam menciptakan kolaborasi harmonis antara teknologi dan manusia untuk masa depan pendidikan.
. [dan/aje]







