Ponorogo (beritajatim.com) – Pemecatan pelatih Tim Nasional (Timnas) Indonesia, Shin Tae Yong, oleh PSSI baru-baru ini menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Salah satu tanggapan datang dari Suwito, warga Ponorogo, yang dikenal sebagai “Shin Tae Yong KW” karena kemiripannya dengan pelatih asal Korea Selatan tersebut.
Pria berusia 51 tahun ini mengaku kecewa atas keputusan PSSI. Mengingat prestasi yang sudah ditorehkan Shin Tae Yong bersama Timnas Indonesia.
Suwito, yang tinggal di Desa Slahung, Kecamatan Slahung ini, menilai langkah PSSI memecat Shin Tae Yong terkesan terburu-buru. Menurutnya, pelatih asal Korea Selatan itu telah membawa dampak positif bagi perkembangan sepak bola Indonesia.
“Saya sebagai Shin Tae Yong KW kecewa sekali. Pelatih seperti Shin Tae Yong itu belum pernah ada di Indonesia. Beliau mampu membawa nama baik Indonesia di kancah internasional,” ujar Suwito.
Selama masa kepemimpinannya, Shin Tae Yong berhasil mengangkat peringkat FIFA Timnas Indonesia dari posisi 174 dunia menjadi 127 dunia. Selain itu, di bawah asuhannya, Timnas juga mampu bersaing dengan tim-tim Asia lainnya, bahkan mulai ditakuti oleh pemain dari negara-negara tetangga. Prestasi inilah yang membuat Suwito merasa bahwa PSSI seharusnya mempertimbangkan ulang keputusannya.
Meski belum pernah bertemu langsung dengan Shin Tae Yong, Suwito mengungkapkan rasa bangga dan harapannya untuk bisa bertemu pelatih tersebut.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih atas nama pribadi maupun bangsa Indonesia karena beliau sudah membawa timnas kita maju. Saya juga berharap PSSI tetap menghormati jasa-jasa beliau,” tambahnya.
Suwito berharap PSSI dapat memilih pelatih yang tidak hanya mampu meneruskan prestasi Shin Tae Yong, tetapi juga menjunjung tinggi nama baik Indonesia di dunia sepak bola. Dengan keputusan ini, perhatian masyarakat kini tertuju pada langkah berikutnya dari PSSI, termasuk siapa yang akan menggantikan posisi strategis tersebut.
“Harapan saya, jangan lupa dengan jasa Coach Shin Tae Yong dan terus lanjutkan jalan yang sudah beliau rintis,” pungkasnya. [end/but]






