Probolinggo (beritajatim.com) – Puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di sekitar Stadion Gelora Kraksaan, Probolinggo, mendatangi Polsek Kraksaan pada Selasa (7/1/2025). Kedatangan mereka bertujuan untuk menuntut penahanan seorang preman bernama Agus yang dinilai telah meresahkan para pedagang.
Aksi ini dipicu oleh laporan istri Agus, Halimatus Sadiyah (38), terkait dugaan penganiayaan terhadap suaminya. Para PKL yang tergabung dalam paguyuban merasa tidak terima dengan tindakan Agus yang dianggap melakukan pemerasan dan premanisme.
“Kami merasa dirugikan dan tidak terima dengan tindakan Agus ini, karena sudah melakukan pemalakan. Ditambah lagi ia (Agus,red) membawa-bawa nama Gus Haris (Bupati terpilih,red),” jelas Koordinator paguyuban PKL, Didik.
Didik juga menekankan bahwa tindakan premanisme yang dilakukan Agus telah meresahkan seluruh pedagang. Mereka juga tidak percaya dengan klaim Agus yang menyebut Gus Haris terlibat dalam aksinya.
Kanit Reskrim Polsek Kraksaan, Iptu Djuwantoro Setyowadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari istri Agus terkait dugaan penganiayaan. Namun, di sisi lain, polisi juga menerima informasi dan laporan dari para PKL terkait pemerasan yang dilakukan oleh Agus.
“Kami akan melakukan penyelidikan untuk menyeimbangkan penanganan perkara ini. Sehingga jika memang ada tindakan pemalakan, korban segera melakukan pelaporan,” jelasnya.
Dari informasi yang dihimpun dari paguyuban PKL, diperkirakan ada sekitar lima orang yang menjadi korban pemerasan oleh Agus. Namun, polisi masih melakukan pendalaman terkait jumlah pasti korban dan kronologi kejadian.
Saat ini kepolisian masih fokus pada tahap penyelidikan awal untuk mengumpulkan bukti-bukti di tempat kejadian perkara (TKP). Kasus ini menunjukkan keresahan para PKL di Stadion Gelora Kraksaan terhadap tindakan premanisme. Pihak kepolisian berjanji akan menindaklanjuti laporan ini secara profesional dan transparan. (ada/kun)






