Mulai 6 Januari 2025, program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai diterapkan pemerintah. Tak kurang anggaran sebesar Rp71 triliun dikucurkan untuk membiayai program prioritas rezim Prabowo Subianto ini. Terdapat pula anggaran tambahan dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota.
Program MBG atau Makan Siang Gratis merupakan program unggulan rezim Prabowo-Gibran. Program ini disampaikan saat kampanye visi dan misi jelang Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2024 lalu. Prabowo-Gibran memenangkan kontestasi Pilpres 2024, sehingga program ini mesti dieksekusi mulai 2025.
Berdasarkan data dari program sebelumnya di Kementerian Kesehatan, sasaran penerima program MBG ini yakni balita 22,3 juta, murid TK sebanyak 7,7 juta, SD/MI sebanyak 28 juta, dan SMP/MTs sebanyak 12,5 juta orang.
Pada tahap awal, program ini menyasar 20 juta anak-anak usia sekolah di Indonesia pada 2025. Diperkirakan target penerima program MBG sebanyak 82,9 juta orang tercapai pada 2027. Karena itu, implementasi program ini dilakukan secara bertahap, mengingat volume target group sangat besar dan karakteristik wilayah target group juga berpencar-pencar di pulau-pulau.
Target penerima pada tahap awal program ini adalah balita dan ibu hamil. Kemudian murid TK, SD, SMP, dan daerah dengan angka stunting tinggi. Nilai nominal MBG yang diterima setiap target sebesar Rp10 ribu per hari, yang diwujudkan dalam bentuk makanan siap santap.
Tak hanya Indonesia, masih banyak negara lain yang menerapkan program ini. Melansir dari World Population Review, negara-negara tersebut di antaranya Brasil, Swedia, Estonia, India, Finlandia, Inggris, Jepang, dan banyak negara lainnya.
Realitas empirik India mungkin banyak kemiripan dengan kondisi Indonesia terkait program MBG ini. Keduanya sama-sama negara berkembang, memiliki volume demografi besar, dan kultur masyarakatnya sangat heterogen. Salah satu catatan penting yang mesti diperhatikan pemerintah adalah program makan siang gratis di India pernah mengakibatkan 23 anak tewas karena keracunan.
Dikutip dari Pulitzer Center, pada Juli 2013, sebanyak 23 anak di Bihar, India, meninggal setelah memakan makanan terkontaminasi pestisida dari program Makan Siang Midday, yang dianggap sebagai program makan siang gratis terbesar di dunia. Seorang juru masak sekolah juga dikabarkan tewas dalam insiden tersebut. Meskipun peristiwa itu disebut kegagalan, program semacam itu di wilayah lain diklaim telah membantu mengurangi kelaparan di beberapa wilayah India yang paling miskin. (Tempo, 14 Februari 2024)
Program MBG merupakan desain kebijakan populis prorakyat kecil. Linier dengan kepentingan wong cilik baik di kawasan perkotaan maupun pedesaan. Ekspektasi politik-kesehatan dari program ini mengurangi, menekan, dan menghilangkan angka anak stunting di satu negara. Cita ideal lainnya adalah meningkatkan kualitas Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di negara bersangkutan. Terutama berkait dengan aspek kesehatan fisik-mental dari anak-anak.
Mengingat alokasi anggaran yang dikucurkan sangat besar: Rp71 triliun dari APBN plus alokasi anggaran dari APBD Provinsi, Kabupaten, dan Kota, dipastikan volume anggaran program MBG lebih dari Rp71 triliun.
Dalam konteks demikian, yang mesti diperhatikan adalah bagaimana alokasi anggaran MBG sesuai dengan target group. Alokasi anggaran MBG tak dijadikan sebagai bancakan oknum-oknum tak bertanggung jawab. Alokasi anggaran MBG tak sekadar dilihat dalam perspektif project oriented demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Sebab, merujuk pengalaman empirik, cukup banyak program bersifat populis, pro-rakyat kecil, linier dengan kepentingan wong cilik, tahap implementasinya menghadapi jalan terjal dan ditelikung oknum eksekutornya. Misalnya, Kredit Usaha Tani (KUT), Alokasi Dana Desa (ADD), Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan lainnya.
Dengan kapasitas anggaran Rp71 triliun lebih, program MBG seyogyanya punya multiplier effect luas, seperti pembukaan lapangan kerja baru di tingkat lokal, mendinamisasi aktivitas perekonomian lokal, menggerakkan ekonomi rakyat, meningkatkan harga beli komoditas pertanian sebagai bahan mentah yang dibutuhkan program MBG, dan lainnya.

Tak selayaknya bahan pokok, seperti beras, telur, daging ayam, daging sapi, ikan, buah-buahan, tempe, tahu, dan lainnya sebagai unsur pokok program MBG didatangkan dari luar negeri (impor), baik secara keseluruhan atau sebagian.
Komunitas petani beras, jagung, dan kedelai, peternak ayam dan sapi, petani buah-buahan dan sayur-mayur, dan pelaku sektor ekonomi primer lainnya selayaknya memperoleh berkah dari program MBG ini. Jangan sampai program MBG justru menguntungkan importir bahan pangan dan kroni-kroninya, termasuk kemungkinan adanya pemburu rente di dalamnya.
Mental project oriented dengan tujuan pokok memburu keuntungan segede-gedenya dan para pemburu rente yang hanya bermodal akses politik, ekonomi, dan relasi personal dengan elite, harus dijauhkan dari program MBG ini.
Program populis ini menjadi taruhan politik bagi Presiden Prabowo apakah benar-benar pro rakyat sesuai materi visi dan misi yang dikampanyekan saat Pilpres 2024 atau sekadar politik lips service tanpa makna apa-apa bagi promosi kualitas kesejahteraan rakyat.
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






