Malang (beritajatim.com) – Human Metapneumovirus (HMPV) adalah virus yang menginfeksi saluran pernapasan dan telah menarik perhatian para ahli, terutama karena potensi penyebarannya yang tinggi di musim dingin. Menurut dr. Andrew William Tulle, staf Divisi Virologi Universitas Brawijaya (UB) Malang, HMPV pertama kali teridentifikasi pada tahun 2001 di Belanda.
Andrew menjelaskan, sejak itu HMPV menjadi salah satu virus saluran pernapasan yang paling sering menyerang anak-anak. Terutama mereka yang berusia di bawah 5 tahun.
Dokter lulusan Master of Science Royal Melbourne Institute of Technology University, Melbourne Australia ini menambahkan bahwa virus HMPV termasuk virus musiman. Negara dengan 4 musim biasanya kejadian infeksinya melonjak di musim dingin (winter) sampai musim semi.
“Seperti saat ini di belahan bumi utara sedang mengalami musim dingin,” ujar Tim Diagnostik pemeriksaan real time-PCR COVID-19 RS Universitas Brawijaya pada 2020 hingga 2022 itu pada beritajatim.com, Jumat (3/1/2025).
Gejala umum HMPV mirip seperti infeksi saluran napas oleh virus yg lain yg menyebabkan common cold atau flu. Pada infeksi saluran napas atas bisa muncul demam, batuk, pilek, nyeri tenggorok.
“Tapi kalau menginfeksi saluran napas bawah bisa disertai dengan mengi. Pada orang-orang dengan riwayat asma bisa memicu serangan asma, begitu pula dengan orang dengan riwayat penyakit paru obstruktif kronis bisa memicu keluhan. Untuk infeksi HMPV saluran napas berisiko memiliki manifestasi klinis yg lebih berat dibandingkan infeksi pada saluran napas atas,” tegasnya.
Dijelaskan dr Andrew, penularan HMPV mirip seperti virus yg lain yg menginfeksi saluran pernapasan, bisa melalui droplet saat batuk maupun bersin. Bisa juga melalui kontak seperti berjabat tangan dan bisa juga melalui benda mati yg terkontaminasi oleh virus tersebut.
“Namun, wetahu saya untuk saat ini belum ada laporan terdeteksinya HMPV di Indonesia. Meski begitu HMPV mudah menyebar, mirip seperti virus penyebab common cold, tapi kemungkinan tidak semasif COVID-19,” ujar pria yang tengah menempuh Pendidikan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.
Transmisi HMPV tidak secepat COVID-19 dan manifestasi klinisnya tidak seberat COVID-19. Berdasarkan data, sejak pertama ditemukan sekitar 10-12% kejadian infeksi saluran napas akut disebabkan oleh HMPV ini.
Menurut dr. Andrew William, semua orang bisa terinfeksi oleh HMPV, tapi angka kejadian paling banyak pada anak2, sekitar usia < 5 tahun sampai usia 10 tahun. Selain anak-anak, pada orang tua dan orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh biasanya lebih rentan terhadap infeksi virus HMPV.
“Sampai saat ini masih belum ada terapi yg spesifik maupun vaksin untuk HMPV. Untuk terapi sebatas pada pemberian terapi sesuai gejala dan terapi suportif saja,” imbuhnya.
Untuk pencegahan penularan HMPV pada dasarnya sama seperti pencegahan terhadap virus saluran pernapasan yang lain. Masyarakat dapat melakukan hand hygiene, karena transmisinya dapat melalui kontak antar manusia maupun kontak dengan benda mati yang terkontaminasi.
“Jika sakit batuk, pilek dapat melakukan etika batuk yg benar sehingga mencegah penyebaran droplet yg mengandung virus tersebut. Kemudian jaga stamina tubuh supaya daya tahan tubuh baik,” jelas dr. Andrew William.
Dokter FK UB ini mengingatkan tindakan khusus oleh pemerintah Indonesia untuk mencegah penyebaran HMPV. Salah satunya dengan menggalakkan atau mengingatkan lagi pentingnya hand hygiene dan etika batuk.
Hal itu mirip seperti saat pandemi COVID-19 yang lalu, karena cara pencegahan transmisi HMPV pada dasarnya mirip seperti pencegahan transmisi COVID-19. Andrew William menyebut sejak pandemi berlalu sepertinya masyarakat mulai kendor lagi dalam mempraktekan hand hygiene.
“Saya pernah membaca ada data yang menunjukkan bahwa pada masa pandemi, kejadian infeksi HMPV ikut mengalami penurunan, tapi setelah pandemi berlalu, Angka kejadiannya naik lagi. Jadi sebaiknya kita galakan lagi kebersihan tangan dan lingkungan,” tutupnya dengan tegas. (dan/but)






