Surabaya (beritajatim.com) – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak sapi di Jawa Timur kembali mewabah dalam beberapa pekan terakhir. Puluhan sapi pun dilaporkan mati akibat penyakit ini.
Menanggapi itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair), Prof Mustofa Helmi Effendi mengatakan, PMK dikenal sebagai penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 14 hari.
Namun dalam beberapa kasus, Helmi mengungkapkan bahwa penyakit ini bisa lebih berbahaya jika menyerang sapi dengan berat badan berlebih. “Jadi, 14 hari sudah sembuh, kecuali PMK itu menyerang sapi yang over weight,” kata Helmi saat ditemui usai Talk Show Ketahanan Pangan dan Budaya Makan Bergizi di Unair Kampus MERR-C, Senin (30/12/2024).
Dalam upaya mengendalikan penyebaran PMK yang saat ini tengah mewabah, menurutnya pihak berwenang perlu mengambil langkah dengan menghentikan sementara lalu lintas hewan ternak dari daerah yang terdampak wabah.
Selain itu, langkah ini juga penting untuk memperoleh data yang akurat mengenai pelaksanaan vaksinasi. “Untuk (ternak terjangkit) PMK, tidak boleh dilalulintaskan yang dari daerah terkena wabah, di-stop dulu,” katanya.
Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu menambahkan bahwa meskipun penyakit ini berbahaya, namun hewan yang telah sembuh total dari PMK tidak memiliki masalah untuk dikonsumsi. “Jika sudah sembuh total, tidak ada masalah untuk dikonsumsi,” tambahnya.
Di tengah upaya pengendalian ini, pihaknya juga menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Unair jika dibutuhkan penanganan lebih lanjut terkait outbreak yang terjadi. “Kalau outbreak yang lama memang saya ikut, barangkali saat ini butuh penanganan dari Fakultas Kedokteran Hewan Unair, kami siap,” tandasnya.
beritajatim.com mencatat, dalam beberapa waktu terakhir, kasus sapi terjangkit PMK ditemukan di sejumlah daerah di Jatim. Antara lain, di Ngawi, Jember, Kabupaten Pasuruan, hingga Kabupaten Blitar. [ipl/kun]






