Malang (beritajatim.com) – Kabupaten Bondowoso resmi ditetapkan sebagai percontohan nasional untuk pengembangan pertanian organik. Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Program Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M) yang dikomandani Prof. Dr. Indah Prihartini, guru besar pertanian UMM. Sejak 2013, UMM telah mendampingi para petani di Bondowoso dengan pendekatan inovatif, termasuk penggunaan pupuk hayati dan manajemen pertanian berkelanjutan.
Kini, kabupaten ini mampu memproduksi 30-50 ton beras organik setiap bulan dengan omzet mencapai Rp1-2 miliar. Tak hanya itu, Bondowoso juga berhasil meraih sertifikasi organik internasional, memperkuat posisinya sebagai pionir pertanian ramah lingkungan di Indonesia.
Wakil Menteri Diktisaintek, Prof. Fauzan, menilai program ini sebagai model ideal yang harus direplikasi di daerah lain. Ia menegaskan bahwa memajukan ketahanan pangan Indonesia harus dimulai dari desa-desa dengan potensi besar seperti Bondowoso.
“Ekosistem pertanian organik di Bondowoso telah terbentuk dengan baik, khususnya di Desa Lombokkulon. Kami berharap anak-anak muda Bondowoso dapat melanjutkan inovasi ini, karena keberlanjutan program sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia lokal,” kata Fauzan.
Selain menjadi percontohan nasional, langkah ini juga mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan.
Pj Bupati Bondowoso, Muhammad Hadi Wawan Guntoro, mengapresiasi kerja keras UMM dalam mendampingi petani selama lebih dari satu dekade. Ia berharap keberhasilan ini dapat memotivasi generasi muda untuk berkontribusi pada sektor pertanian organik.
“Bondowoso memiliki potensi besar untuk menjadi inspirasi bagi daerah lain. Kami optimis pertanian organik akan terus berkembang dengan dukungan UMM dan pemerintah,” ujarnya.

Selain fokus pada pertanian organik, UMM juga menggagas pengembangan Bondowoso sebagai wilayah mandiri energi. Menurut Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, Ph.D., potensi energi terbarukan seperti aliran sungai dan panas matahari di Bondowoso dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan desa mandiri energi.
“Kami tidak hanya berhenti di pertanian organik. Bondowoso juga memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor energi terbarukan, yang sejalan dengan visi UMM dan pemerintah,” tutur Salis.
Dengan keberhasilan ini, Bondowoso diharapkan menjadi role model nasional dalam pengembangan pertanian organik dan ketahanan pangan. Program yang dirintis UMM menunjukkan bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak hanya berdampak pada dunia akademik, tetapi juga memberikan solusi konkret bagi masyarakat. (dan/but)






