Ponorogo (beritajatim.com) – Karang Taruna Kridho Manunggal di Dukuh Krajan, Desa Plunturan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo menggelar pelatihan Nonjok dan Mladen. Kegiatan bertujuan melestarikan adat istiadat Jawa, berlangsung di Aula Brilliant Waterpark Plunturan.
Nonjok merupakan kegiatan memberikan bingkisan berupa nasi atau makanan lainnya kepada sanak saudara menjelang hajatan. Tradisi ini dilakukan oleh pemuda setempat atas nama keluarga yang akan mengadakan acara.
Nonjok tidak sekadar membagikan bingkisan, tetapi juga harus dilakukan dengan adab, tata krama, dan ucapan yang telah diwariskan turun-temurun.
Ketua pelaksana kegiatan, Saddam Ganendra, menjelaskan pelatihan ini muncul dari keprihatinan terhadap semakin tergerusnya tradisi Nonjok akibat perkembangan zaman. Sedangkan Mladen, merupakan kesadaran diri dari para pemuda untuk membantu menyumbangkan tenaganya ketika ada warga atau tetangga yang sedang menggelar hajatan.
Senada dengan Nonjok, dalam Mladen juga dilakukan dengan adab dan tata krama, terutama saat menyuguhkan makanan.
“Seiring modernisasi, adat istiadat seperti Nonjok mulai jarang dilaksanakan. Oleh karena itu, kami merasa perlu mengadakan pelatihan ini agar generasi muda tetap memahami dan melestarikan tradisi ini,” kata Saddam, ditulis Rabu (18/12/2024).
Pelatihan ini diikuti oleh seluruh pemuda-pemudi Dukuh Krajan, termasuk mereka yang tengah merantau dan pulang untuk mengikuti kegiatan. Acara ini juga mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat, dan perangkat Desa plunturan. Para sesepuh desa ini juga hadir untuk memberikan motivasi kepada para pemuda.
“Sudah sepantasnya pemuda mengambil inisiatif untuk melestarikan budaya seperti ini. Kami sebagai aparatur desa tentu mendukung penuh,” kata Dwi Bintoro, salah satu perangkat desa Plunturan.
Dengan adanya pelatihan ini, kata Dwi Bintoro menyebut bahwa Karang Taruna Kridho Manunggal menunjukkan komitmen mereka untuk menjaga warisan budaya Jawa di tengah perubahan zaman. Harapannya, generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga bangga melaksanakan adat istiadat yang menjadi bagian dari identitas mereka.
“Semoga kegiatan serupa terus berlanjut demi menjaga identitas budaya kita,” tutup Dwi Bintoro. [end/beq]






