Kediri (beritajatim.com) – Kabupaten Kediri mencatat tidak ada lagi warga yang buta aksara berdasarkan data Dinas Pendidikan. Namun, masih terdapat anak tidak sekolah yang terbagi dalam tiga kategori utama.
Supriyono dari Dinas Pendidikan Kediri menyebut kategori itu meliputi anak di pesantren salaf, drop out (DO), dan tidak melanjutkan. “Mereka belum sekolah karena alasan tertentu atau putus sekolah,” jelas Supriyono.
Ia juga mengungkap keberhasilan program keaksaraan di Kediri yang dilakukan melalui berbagai lembaga pendidikan nonformal. “Melalui keaksaraan fungsional, kita menjaring warga untuk belajar di PKBM atau kejar paket,” tambahnya.
Program ini melibatkan UPTD pendidikan di kecamatan hingga Sanggar Kegiatan Belajar. Langkah tersebut memastikan seluruh warga memiliki akses pendidikan dasar.
Nunung Chuzaimah, Kepala Sekolah SDIT Al Arif Gampengrejo, menyatakan belum menemukan anak yang benar-benar buta aksara. “Kalau kesulitan membaca mungkin ada, tetapi aksara dasar sudah mereka kenal,” ujar Nunung.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi membantu anak mengenal aksara sejak dini. “Anak-anak setidaknya memahami nominal uang atau menggunakan gawai, itu tanda mengenal aksara,” katanya.
Supriyono menekankan perlunya verifikasi data anak tidak sekolah dengan pihak terkait. Data ini diperoleh dari Dapodik dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
“Diperlukan koordinasi untuk memvalidasi data agar intervensi tepat sasaran,” ucapnya. Pendekatan lintas sektor sangat penting dalam menangani masalah ini. [ADV PKP/nm]






