Surabaya (beritajatim.com) – Sekelompok penggiat pendidikan dan kesehatan anak dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melaksanakan program pengabdian masyarakat.
Mereka mendampingi anak-anak SD dengan permainan tradisional. Tujuannya, agar mereka tidak kecanduan gadget. Makanya program yang dilakukan tersebut bertema ‘Pemanfaatan Permainan Tradisional Sebagai Upaya Peningkatan Aktivitas Motorik Pada Siswa’.
“Ini dalam rangka meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak sekaligus mengurangi kecenderungan penggunaan gadget. Program ini kita laksanakan pada Agustus 2024 lalu. Walhasil, mendapat sambutan positif,” kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Satria Eureka Nurseskasatmata S.Kep., Ns., M.Kep, Jumat (15/11/2024).
Program tersebut dilaksanakan di SD Negeri Dukuh Kupang 1 Surabaya. Murid-murid di sekolah tersebut antusias mengikuti berbagai permainan tradisional. Program ini berfokus pada pelatihan permainan tradisional seperti lompat tali karet, bakiak batok kelapa, dan bakiak kayu.
Melalui permainan-permainan ini, anak-anak diajak untuk lebih aktif secara fisik, sekaligus merangsang motorik kasar dan halus mereka. Selain itu, program ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai sosial dan keterampilan interpersonal, seperti kerjasama, kejujuran, dan sportivitas.
Menurut Ketua Tim yang juga dosen keperawatan ini, promosi permainan tradisional adalah langkah penting di tengah maraknya penggunaan perangkat elektronik oleh anak-anak. Betapa tidak, saat ini anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar, baik untuk belajar maupun bermain.
“Nah, ini menyebabkan menurunnya aktivitas fisik mereka, yang berdampak pada kesehatan dan perkembangan motorik anak. Kami ingin mengenalkan kembali permainan yang dulu populer, agar anak-anak bisa mengurangi screen time mereka dan aktif bergerak,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, murid kelas 3 diberikan waktu khusus untuk memainkan permainan tradisional, setelah melakukan olahraga pagi yang dipandu oleh para tim dosen berisikan 6 orang. Mereka terdiri dari dosen keperawatan dan kebidanan dan guru wali kelas.

Mereka diperkenalkan cara bermain serta aturan permainan, sehingga anak-anak dapat memahami nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya. Tim pengabdian juga mengimbau kepada sekolah untuk melanjutkan praktik ini dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.
Salah satu guru, Kriswati melihat perubahan yang positif pada murid-muridnya setelah mengikuti kegiatan ini. “Anak-anak terlihat lebih gembira dan aktif. Mereka berinteraksi langsung dengan teman-temannya, bukan hanya sibuk sendiri dengan gadget. Harapannya, ini bisa jadi rutinitas yang berdampak positif bagi kesehatan fisik dan mental mereka,” ujar Kriswati
Saat dilakukan tanya jawab kepada seluruh siswa mengatakan mereka sangat menikmati permainan engklek dan lompat tali. “Seru bangetkan bisa main sama teman-teman dan belajar aturan mainnya. Lebih enak main begini daripada main game di HP sendiri-sendiri,” seru Ketua Tim Pengabdian.
Diharapkan, program ini dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya dalam meningkatkan aktivitas fisik dan keterampilan motorik anak-anak di berbagai sekolah. Tim pengabdian masyarakat Unesa berkomitmen melanjutkan kegiatan serupa di sekolah-sekolah lain guna melestarikan permainan tradisional Indonesia dan mengurangi dampak negatif penggunaan gadget berlebihan pada anak. [suf]






