Yogyakarta (beritajatim.com)– Memiliki jiwa yang sehat memerlukan fisik yang kuat sebagai penunjang. Membangun kesehatan fisik dan mental yang optimal sejak usia muda menjadi investasi jangka panjang yang sangat berharga, terutama untuk masa tua.
Walaupun masa remaja sering kali dianggap sebagai usia yang sehat, kebiasaan yang terbentuk sejak dini memainkan peran besar dalam mencegah berbagai masalah kesehatan di kemudian hari, seperti sindrom metabolik, diabetes, hipertensi, dan gangguan lipid.
Salah satu kebiasaan baik yang perlu dibentuk sejak remaja adalah berolahraga selama minimal 30 menit, lima hari dalam seminggu. Selain itu, mengonsumsi makanan sehat (real food) dan bukan junk food, tidur yang cukup, serta menjalin hubungan yang baik dengan keluarga dan teman juga menjadi langkah penting.
Dalam diskusi kesehatan remaja yang digelar baru-baru ini, hadir dr. Tirta Mandira Hudhi, seorang influencer dan pengusaha yang juga dokter lulusan FK-KMK UGM; dr. Fransica Handy, Sp.A IBCLC., pendiri Asosiasi Kesehatan Remaja Indonesia; serta dr. Fitriana Murriya Ekawati, MPHC., Sp.KKLP., dari Departemen Kedokteran Keluarga FK-KMK UGM sebagai moderator.
Tantangan dan Peluang Gaya Hidup Sehat di Era Teknologi
Menurut dr. Tirta, gaya hidup sehat di era digital saat ini semakin kompleks, terutama sejak pandemi COVID-19. Pandemi mengakibatkan perubahan pola aktivitas remaja yang awalnya sering berada di dalam rumah, sehingga mereka mencari cara untuk tetap aktif di luar ruangan. Hal ini turut memicu peningkatan penjualan peralatan olahraga outdoor seperti alat lari, sepeda, dan perlengkapan mendaki pada tahun 2022.
“Saat pandemi, banyak remaja merasa terisolasi di rumah, jadi mereka mencari kegiatan luar ruangan. Ini adalah hal positif, meskipun teknologi menjadi pendorongnya, tetapi minat terhadap kegiatan fisik tetap ada,” ujar dr. Tirta.
Namun, ia juga menyoroti bahwa gaya hidup yang kurang sehat dapat memicu berbagai penyakit, termasuk penyakit ginjal yang kini semakin banyak menyerang kelompok usia muda. “Beberapa mungkin mengonsumsi makanan sehat, tetapi tetap tidak bisa lepas dari minuman manis,” jelasnya.
Pentingnya Kesehatan Mental bagi Generasi Muda
dr. Fransica menekankan pentingnya keseimbangan kesehatan mental bagi remaja. Menurutnya, kesehatan mental sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan individu secara keseluruhan, terutama bagi generasi muda yang kelak akan menjadi orang tua.
“Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa generasi muda saat ini adalah calon orang tua di masa depan, yang akan membesarkan generasi penerus. Oleh karena itu, semakin dini kebiasaan hidup sehat diterapkan, semakin baik hasilnya.
Survei kesehatan mental yang dilakukan oleh dr. Fransica dan tim menemukan bahwa sekitar 30% remaja usia 17 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Selain itu, data dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia tahun 2022 menunjukkan bahwa usia 20-30 tahun merupakan kelompok yang paling sering mengakses layanan telekonsultasi psikologi. Fakta ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda demi mengoptimalkan bonus demografi dan mendukung tercapainya generasi emas Indonesia.
Tips Menerapkan Kebiasaan Sehat di Kehidupan Sehari-hari
dr. Fitriana memberikan beberapa saran praktis agar remaja dapat menerapkan gaya hidup sehat dengan konsisten. Mulailah dengan olahraga sederhana setiap hari, konsumsi makanan bergizi, tidur cukup, dan bangun relasi yang positif dengan teman dan keluarga. Menurutnya, menjaga kesehatan mental dapat dilakukan dengan olahraga ringan yang sekaligus merelaksasi pikiran. “Sekitar 7% remaja menunjukkan gejala depresi dan kecemasan karena terlalu ambisius, serta pola makan yang tidak teratur sehingga memengaruhi metabolisme,” ungkapnya.
Dengan langkah-langkah sederhana ini, remaja bisa membangun fondasi kesehatan yang kuat untuk masa depan. Gaya hidup sehat sejak dini adalah investasi bagi kualitas hidup jangka panjang dan mendukung terciptanya generasi yang lebih sehat dan produktif. [aje]






