Surabaya (beritajatim.com) – Puluhan pedagang enggan berjualan di area dalam Pasar Pakis Surabaya. Mereka lebih memilih berjualan di depan pasar, dekat akses jalan.
Alasan dari para pedagang, area dalam pasar kumuh. Selain itu, mayoritas pembeli juga tidak mau berbelanja dengan masuk ke dalam pasar.
Ketua RW 08 Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Djoko Sadono mengatakan, ada sekitar 50 pedagang yang pindah berjualan di dekat akses jalan, di Jalan Dr. Soetomo (depan Pasar Pakis) di sisi RW 08. Kata dia, mereka pindah lantaran karakteristik pembeli sekarang tidak mau belanja hingga ke area dalam pasar.
“Ada sekitar 50 pedagang pasar, yang kemudian mereka membuka lapak dagang di luar pasar. Di pinggiran jalan RW kami,” ungkap Djoko, Rabu (6/11/2024).
Djoko juga membenarkan kalau karakteristik pembeli saat ini enggan untuk berbelanja ke area dalam pasar. Ia sendiri melihat pembeli ini tidak mau parkir, langsung mengarahkan kendaraannya tepat di depan lapak luar.
“Pembeli ini tidak mau ribet untuk masuk ke area dalam pasar. Apalagi kalau mereka masuk, maka mereka harus parkir. Itu alasannya sehingga para pedagang berlomba – lomba buka lapak di depan pasar. Seperti berkompetisi cari untung,” jelasnya.
Sehingga, dari aktivitas jual beli di depan Pasar Pakis setiap pagi selalu menimbulkan kemacetan. Karena wilayah yang dipakai pedagang ini adalah di RW 08, Djoko bilang, pedagang dikenakan retribusi kebersihan setiap hari.
“Ya karena pedagang pasar ini banyak yang keluar dan membuka lapak jualan di sisi jalan pemukiman RW 08, akhirnya dikelola sama pihak RW. Dikenakan retribusi untuk kebersihan, setiap hari 5 ribu,” ucap dia.
Diberitakan sebelumnya, Pasar Pakis atau pasar tradisional yang terletak di Jalan Dr Soetomo, Kota Surabaya dalam kondisi memprihatinkan.
Kumuhnya area pasar ini dinilai bermasalah, ditambah dengan minimnya minat pedagang dan pembeli untuk beraktivitas di dalam pasar semakin memperburuk situasi, seolah “mati suri”.
Siti (43), salah seorang pedadang di Pasar Pakis mengungkapkan, sepinya aktivitas pedagang hari ini karena mereka (pedagang) enggan menempati stand – stand mereka, lantaran kotor dan sarat tidak menghasilkan rejeki ataupun laba.
“Pasar terlihat kotor dan tidak layak. Katanya mau diperbaiki pada bulan Oktober 2024. Namun sampai sekarang belum ada. Sehingga pedagang banyak yang pindah jualan di depan pasar, karena lebih banyak untung atau laba,” terang Siti kepada beritajatim.com di Pasar Pakis, Selasa (5/11/2024).
Permasalahan lain, juga turut disampaikan oleh Damsi, seorang pedagang yang pindah jualan di area depan Pasar Pakis. Kata dia, alasan dirinya berpindah ke area depan pasar, karena sekarang pembeli yang tidak mau ribet parkir, serta masuk pasar.
“Dulunya saya juga berdagang di area dalam, tapi kemudian saya memutuskan sewa kios yang ada di area luar pasar, karena untungnya lebih banyak dan lumayan. Pembeli juga lebih memilih belanja di depan pasar daripada di dalam,” papar Damsi.
Damsi pun mengaku iri sebelum ia pindah keluar pasar. Menurutnya, fenomena pembeli tidak mau belanja ke dalam pasar ini, tidak bisa ‘dibendung’ lagi.
“Saya jualan di Pasar Pakis sejak tahun 2009, dan baru satu tahun ini jualan di pasar, karean menyesuaikan dengan karakteristik pembeli,” ujar dia. [ram/beq]






