Surabaya (beritajatim.com) – Unesa (Universitas Negeri Surabaya) mengukuhkan sembilan profesor pada Selasa (29/10/2024). Hal ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem akademik, riset, publikasi, dan inovasi.
Rektor Unesa Prof Nurhasan menyampaikan bahwa pengukuhan sembilan profesor ini merupakan gelombang pertama di tahun 2024. Nantinya akan diikuti gelombang kedua pada awal November dengan 11 profesor.
“Kami juga menunggu pengumuman untuk gelombang ketiga dengan sekitar 18 profesor. Semoga prosesnya lancar,” ujar Cak Hasan, sapaannya, usai acara Pengukuhan Guru Besar di di Gedung Sawunggaling.
Ia menambahkan, pengajuan guru besar merupakan tantangan, dan tidak semua dosen dapat mencapainya karena ada kualifikasi tertentu. Unesa sendiri berkomitmen meningkatkan jumlah profesor melalui program percepatan guru besar.
“Dosen yang memenuhi kualifikasi kami dorong untuk segera mengajukan. Kami fasilitasi dan beri pendampingan dari tim percepatan yang terdiri dari guru besar senior, serta memberikan insentif bagi dosen yang publikasinya di jurnal bereputasi,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa dari total 1.498 sumber daya manusia (SDM) di Unesa, baru ada sebanyak 178 yang dikukuhkan menjadi profesor atau guru besar. “Karena menjadi guru besar itu juga tidak mudah di perguruan tinggi. Butuh perjuangan luar biasa,” tuturnya.
Adapun sembilan profesor Unesa yang baru saja dikukuhkan. Mereka antara lain Prof Endang Pudjiastuti Sartinah, guru besar bidang bimbingan dan konseling anak berkebutuhan khusus.

Kemudian Prof Abadi, guru besar bidang matematika terapan (sistem dinamik), Prof Raden Roro Nanik Setyowati, guru besar bidang sosiologi pendidikan, Prof Himawan Wismanadi, guru besar bidang analisis kondisi fisik bulu tangkis.
Selanjutnya, Prof Achmad Imam Agung, guru besar bidang pendidikan kewirausahaan teknik elektro, Prof Setiyo Hartoto, guru besar bidang pembelajaran tenis lapangan, Prof Bachtiar Syaiful Bachri, guru besar bidang pengembangan kurikulum.
Berikutnya, Prof Lilik Anifah, guru besar bidang kecerdasan buatan pattern recognition atau intelligence pattern recognition, dan Prof Dwi Cahyo Kartiko, guru besar bidang pembelajaran bola basket. [ipl/suf]






