Surabaya (beritajatim.com) – Sejumlah anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) mengaku menerima ancaman setelah insiden karangan bunga yang viral beberapa hari lalu.
Insiden tersebut bermula ketika BEM FISIP Unair memasang karangan bunga bernarasi satir di Taman Barat FISIP Unair sebagai ungkapan kekecewaan mereka terhadap Pemilu 2024.
Karangan bunga itu dipasang pada Selasa, 22 Oktober pukul 15.00 WIB, sebagai ucapan ‘selamat’ kepada presiden dan wakil presiden terpilih. Aksi ini untuk menyoroti berbagai permasalahan selama pemilu.
Hal ini pun menarik perhatian banyak mahasiswa dan menjadi viral di media sosial, terutama di platform X dan TikTok, dengan respon pro dan kontra. Sejumlah pihak juga merasa bahwa karangan bunga tersebut tidak mencerminkan sikap kolektif mahasiswa.
Pasca insiden ini, sejumlah anggota BEM FISIP Unair pun mengaku menerima ancaman melalui pesan singkat dan media sosial. Mereka merasa tertekan dan khawatir terhadap keselamatan pribadi mereka.
“Ancaman cyber per hari ini masih menghantui teman-teman fungsionaris dan saya, di media sosial. Sekarang mulai bermunculan lagi ancaman melalui email dan media sosial yang sifatnya lebih publik,” kata Presiden BEM FISIP Unair Tuffahati Ullayyah, Selasa (29/10/2024).
Tuffa mengungkapkan, ancaman tersebut di antaranya berupa pesan-pesan berisi hinaan terkait penampilan fisik mereka atau body shaming. Bahkan, ada pula ancaman berupa ancaman fisik.
“Ada juga ancaman bahwasanya teman-teman ketika ada di jalan akan mendapat ancaman fisik, berbahaya ketika ada di jalan dan sebagainya,” ungkap Tuffa.
Menanggapi situasi ini, BEM FISIP Unair telah menjalin komunikasi dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk mendapatkan pendampingan hukum.
“Kami sudah berkoordinasi dan menjalin komunikasi awal dengan pihak LBH. Jika kami memerlukan bantuan lebih lanjut, kami akan segera menghubungi LBH,” jelasnya.
Sedangkan terkait ancaman yang diterima, BEM FISIP sedang menginventarisir semua bentuk ancaman dan motif di baliknya.
“Kami ingin memahami lebih dalam narasi dan motif dari ancaman ini untuk mengembangkan wacana baru tentang kebebasan berekspresi yang kini terancam oleh serangan siber yang masif,” tandasnya. [ipl/suf]






