Jakarta (beritajatim.com) – Kepulauan Aru di Maluku dikenal dengan keindahan alam yang memukau dan kekayaan biodiversitasnya. Namun, keindahan ini tak hanya dimiliki alamnya, melainkan juga masyarakat adat yang selama berabad-abad hidup berdampingan dengan hutan dan laut.
Salah satu yang gigih mempertahankan kekayaan alam Aru adalah Monika Maritjie Kailey, seorang perempuan adat pemberani yang terus berjuang di garis depan melawan segala upaya yang merusak alam dan hak-hak masyarakat adat di sana.
Monika, atau Monik, kini berada di Cali, Kolombia, menghadiri konferensi internasional tentang Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP 16 CBD). Ia membawa pesan mendalam dari Aru, menegaskan bahwa masyarakat adat adalah penjaga asli hutan, laut, dan seluruh ekosistem Aru.
Bukan sekadar teori, Monik hidup di antara alam yang membentuknya sejak kecil. Alih-alih mengikuti kebiasaan anak perempuan lainnya di kampung yang belajar memasak di dapur, Monik lebih banyak menghabiskan waktu menjelajahi hutan dan laut bersama sang ayah.
Kehidupan Tak Lazim Seorang Perempuan Adat
Sejak kecil, Monik sudah diajak keluar-masuk hutan, beristirahat di gua, dan belajar membaca jejak hewan buruan. Pengalaman ini menempanya menjadi sosok yang tangguh dan mandiri. Ia belajar cara berburu, bertahan hidup di alam liar, dan memahami cara hidup hewan di hutan.
Sementara anak perempuan lainnya tidak menguasai hal-hal tersebut, Monik justru menganggap ilmu itu menjadi modal besar baginya untuk menjadi pemimpin.
“Hal-hal seperti berburu, mencari pohon untuk berlindung dari hewan liar, dan belajar membuat api di tengah hutan adalah pengalaman yang saya dapatkan dari ayah saya. Ini mengajarkan saya tanggung jawab, bahkan sejak kecil,” ujarnya.
Harmoni dengan Alam, Bertahan Hidup dengan Kearifan Lokal
Bagi Monik, alam dan manusia tak terpisahkan. “Masyarakat di kampung kami sangat bergantung pada hutan dan laut,” ungkapnya.
Masyarakat adat Aru hidup dengan prinsip mengambil sesuai kebutuhan. Mereka berburu rusa dan babi hutan hanya untuk konsumsi atau upacara adat, dan tradisi ini berlangsung turun-temurun.
Aru adalah surga hasil laut, mulai dari rumput laut, ikan, hingga kepiting. Namun, bukan hanya untuk mata pencaharian, menjaga keberlanjutan sumber daya alam merupakan prinsip masyarakat Aru. Mereka memiliki aturan adat yang ketat, seperti kewajiban menanam bibit pohon baru sebelum menebang yang lama untuk membangun rumah.
Menjaga Tradisi sebagai Benteng Identitas
Monik teguh memegang nilai adat yang diajarkan oleh leluhur. Bagi keluarganya, adat sudah ada sebelum agama dan negara. Dari sinilah ia terus melangkah. Bagi Monik, tradisi adalah pengingat bahwa tanah Aru adalah bagian penting dari identitas masyarakat adat. Ayahnya pun memberi dukungan besar, memberinya nasihat bahwa jika ia berbicara benar demi masyarakat adat, ia tidak akan mati sia-sia.
Monik mewarisi semangat ayahnya yang pernah memimpin gerakan #SaveAru, memperjuangkan penyelamatan hutan Aru dari ancaman perusakan. “Saya punya tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan ini. Alam adalah provider utama,” tegasnya.
Pendidikan: Senjata Melawan Kegelapan
Tantangan terbesar yang dihadapi Monik adalah tekanan sosial. Banyak orang menganggap perjuangannya sia-sia. Namun, bagi Monik, pendidikan adalah kunci. Tawaran beasiswa dari Pemerintah Norwegia diambilnya sebagai kesempatan untuk membawa pengetahuan kembali ke Aru.
“Pendidikan adalah jalan keluar dari kegelapan. Saya ingin berkontribusi pada pendidikan di Aru dan mengenalkan bahasa Inggris di sana,” kata Monik.
Perjalanan Monik adalah simbol keberanian seorang perempuan adat dalam mempertahankan alam dan hak-hak masyarakatnya. Dukungan penuh dari orang tuanya memperkuat langkah Monik untuk menghadapi tantangan dengan kepala tegak. Semangatnya kini tak hanya untuk dirinya, melainkan untuk generasi mendatang di Aru. [beq]






