Ponorogo (Beritajatim.com) – Di tengah gempuran kuliner modern, Warung Samandiman yang berlokasi di Jalan Letjen Suprapto, Kecamatan Siman, Ponorogo, tetap konsisten menghidangkan jajanan tradisional yang kini sulit ditemukan, yakni jadah uran. Kuliner khas ini terbuat dari beras ketan dan disajikan dengan taburan kelapa serta bubuk kacang kedelai. Sensasi rasa lembut, manis dan gurih saat kunyah di mulut. Semakin menegaskan sebagai kuliner tradisional, penyajian Jadan Uran dari Warung Samandiman ini dengan cobek yang terbuat dari tanah liat.
Proses pembuatannya pun sederhana, namun tetap mempertahankan kualitas rasa yang otentik. Pertama, beras ketan dicuci hingga bersih, lalu dikukus dan dimasak dengan santan hingga matang sempurna. Tidak selesai di situ, sebelum di makan, masih diberi toping, yakni berupa taburan kelapa parut segar dan bubuk kacang kedelai.
“Jadah uran yang disajikan dengan taburan kelapa parut segar dan bubuk kacang kedelai, menciptakan perpaduan rasa gurih dan manis yang khas,” kata Pemilik Warung Samandiman, Endah Rahmawati, Jumat (25/10/2024).
Setiap harinya, Warung Samandiman menghabiskan hingga belasan kilogram ketan untuk memenuhi pesanan jadah uran yang selalu menjadi favorit pelanggan. Meski begitu, harga jajanan tradisional ini tetap terjangkau, membuatnya menjadi pilihan utama di antara menu lain yang juga tersedia di kedai ini.
“Meski ini merupakan jajanan tradisional, ternyata masih banyak pengunjung yang menyukai jajanan ini,” ungkap Endah.
Kehadiran Warung Samandiman yang menghadirkan kembali jadah uran, mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Ini membuktikan bahwa di tengah banyaknya makanan modern, rasa klasik dan kehangatan kuliner tradisional masih memiliki tempat di hati para pecinta makanan. Jajanan jadah uran ini, sudah jarang ditemui di pasar-pasar.
“Di Ponorogo, sangat jarang ada tempat yang masih menjual jadah uran, jadi saya senang bisa menemukannya,” kata Dian Ayu, salah satu pengunjung Kedai Samandiman. [end/but]






